Development Basketball League (DBL) World Camp 2010 bersama National Basketball League (NBL) Australia punya misi serius untuk masa depan basket Indonesia. Para pelatih dan penyelenggara sepakat untuk mengejar nilai-nilai baru yang diimpikan untuk basket Indonesia. Yaitu disiplin, kerja keras, pride (kebanggaan), quickness (kecepatan), dan skillful (kemampuan). Nilai-nilai itu disepakati dalam pertemuan persiapan terakhir, pagi kemarin (7/8) sebelum camp dibuka di DBL Arena Surabaya.
Kesepakatan dicapai setelah diskusi antara para pelatih NBL Australia dengan penyelenggara dari DBL Indonesia, plus para pemain dan pelatih NBL Indonesia yang ikut membantu program ini. “Indonesia harus punya karakter sendiri dalam bermain basket. Karena itulah DBL World Camp 2010 dilangsungkan. Untuk masa depan basket di Indonesia,” kata Andrew Vlahov, legenda basket Australia yang menjadi koordinator para pelatih.
Azrul Ananda, commissioner DBL, mengaku senang dengan urutan lima nilai yang disepakati. “Hebat atau tidak, yang paling utama harus disiplin dan kerja keras dulu. Lalu kebanggaan. Karena nilai-nilai itu bisa membantu dalam banyak hal, bukan hanya basket. Baru kemudian kecepatan dan ketrampilan,” paparnya. Mick Downer, asisten pelatih klub NBL Australia Cairns Taipans, menegaskan pentingnya karakter tersebut.
Dia bilang, sampai saat ini Indonesia belum punya karakter permainan basket. “Karakter adalah nyawa. Kalau karakter tidak ada, jangan harap permainan berkembang,” tandas Downer, yang pada 2008 pernah memberi materi latihan kepada DBL Indonesia All- Star 2008 di Perth, Australia Barat. Downer menambahkan, Australia bisa menularkan fundamental yang kuat. “Kalau dikombinasi dengan semangat Indonesia, lalu ditambah nilai pekerja keras, mungkin bisa menghasilkan formula baru bagi basket Indonesia,” ujarnya.
Nilai dan program pada DBL World Camp 2010 ini pun menambah semangat para pemain NBL Indonesia yang ikut membantu latihan. Termasuk di antaranya pemain Aspac Dell Jakarta, Antonius Joko Endratmo. Meski sudah tergolong pemain senior, dia merasa dapat suntikan ilmu baru. “Itung-itung dapat ilmu dan pengalaman dari pemain lain,” katanya.
Tentang materi yang diajarkan di DBL World Camp 2010, Joko merasa kagum.”Dasar-dasar permainan bola basket yang saya lihat hari ini (kemarin, Red.) jarang sekali didapatkan di dunia basket profesional. Saya dapat materi soal agility dari pelatih juga baru-baru ini saja,” tutur Joko. Nah, pebasket asal Jogjakarta ini menghimbau agar camper tidak menyia-nyiakan kesempatan kesempatan bergabung dengan DBL World Camp 2010 ini.
Meski para peserta camp sudah SMA, mereka belum terlambat untuk mengem bangkan kemampuan. Itu bisa berkaca dari pengakuan Corey Williams saat seremoni pembukaan. “Saya lahir di Bronx, New York. Di sana, anak baru lahir sudah bisa main basket. Tapi saya baru mulai di usia 13 tahun.
Namun berkat kerja keras, saya bisa menjadi pemain kelas dunia. Kalau ingin berkembang, kalian harus belajar sebanyak-banyaknya di camp ini,” katanya di hadapan 181 pemain SMA pilihan (putra dan putri) Honda DBL 2010. Joko pun mengaku baru main basket saat SMA.
“Tidak ada kata terlambat. Yang penting latihan, latihan, dan latihan. Dan jangan putus asa,” tandasnya. Selain Joko, pemain NBL Indonesia lain yang ikut membantu program adalah Randolph Ariestedes (Stadium Jakarta) dan Hendru Ramli (Garuda Flexi Bandung). Ikut pula Octa viarro Romely Tamtelahitu, asisten pelatih Muba Hang Tuah IM Sumatera Selatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar