Kamis, 30 September 2010

Alasan Perlu Berjalan 10.000 Langkah per Hari

Osteoporosis kini menjadi masalah serius dan besar di Indonesia. Berdasarkan data Puslitbang Gizi tahun 2006, dua dari lima orang di Indonesia berisiko terkena penyakit tulang keropos ini.
Untuk itu, Anda perlu tahu, sangatlah penting untuk 'menabung' dan memenuhi kebutuhan kalsium harian pada masa pertumbuhannya, yaitu mulai dari masa kehamilan, masa kanak-kanak dan dewasa.
“Pertumbuhan dan perkembangan tulang akan berada pada masa puncak ketika usia menginjak 30 tahun. Setelah itu, massa tulang akan menurun secara alami,” kata Dr. Tanya TM Rotikan, SpKO dari Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI/ RSCM, Rabu 29 September 2010.
'Menabung' kalsium untuk tulang sehat hingga usia lanjut bisa dilakukan sejak usia muda dengan bergaya hidup sehat, antara lain, konsumsi nutrisi mengandung kalsium, menghindari kafein dan sodium berlebih, tidak merokok dan minum alkohol, melakukan aktivitas fisik cukup serta cukup mendapatkan paparan sinar matahari terutama di pagi hari.
Namun, bagi Anda yang menyukai oalahraga, latihan yang memberikan beban bisa membantu menstimulasi tulang untuk berkembang, sehingga dapat menjaga kepadatan tulang. Salah satu olahraga yang cocok adalah berjalan kaki. Kegiatan sederhana ini mampu menjaga keseimbangan dan mengurangi risiko terjatuh, sehingga membantu mencegah adanya risiko patah tulang dan juga osteoporosis.
“Meski begitu, berjalan kaki harus dilakukan dengan aturan benar. Setidaknya, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi agar berjalan kaki bisa berguna sebagai salah satu olahraga yang efektif bagi kesehatan tulang.”
Melangkah sebanyak 10.000 langkah dalam sehari adalah ukuran minimal dan dianggap aktif, jika para wanita khususnya yang lebih rentan mengalami osteoporosis ingin menjaga kondisi tulang. Usahakanlah untuk memperoleh 3000-4000 langkah dalam 30 menit selama berolahraga.
Sisanya, dapat dicapai dengan berbagai aktifitas fisik harian seperti berjalan kaki, menggunakan tangga daripada eskalator atau lift, bermain bersama anak, menyapu, berdansa, dan lainnya. Dengan begitu, total 10.000 langkah atau bahkan lebih bisa dicapai dalam sehari.

Poin Lebih Penting daripada Dunk

Para amper Indonesia Development Camp (IDC) 2010 mulai menerima trik-trik untuk memenangkan pertandingan. Pada hari kedua kemarin (22/9), mereka diajari banyak hal tentang bagaimana cara menyerang (offense) dan mendulang poin.
Shooting tentu saja menjadi materi utama yang diajarkan di C-Tra Arena. Selain itu, mereka diajari beberapa gerakan (footwork, pivoting) dan pola kerja sama untuk melakukan offense. Salah satunya bagaimana melakukan 5 ball competitive shooting. Itu adalah pola penyerangan yang melibatkan tiga pemain. Scoring bisa dilakukan dengan layup salah seorang pemain maupun shooting dua pemain lain.
Jama Mahlalela (basketball operations director NBA Asia) yang memimpin sesi latihan itu sem pat sedikit kesal. Sebab, bukannya layup, beberapa pemain malah mencoba melakukan dunk untuk mencetak angka.
Jama pun menantang para camper untuk melakukan pola penyerangan itu dengan diakhiri dunk. Hasilnya, dari sebelas percobaan, hanya dua dunk yang masuk.
”Banyak pemain berpikir bahwa dunk adalah eksekusi yang keren. Tapi, mereka salah. Hal terpenting dalam penyerangan adalah memasukkan bola ke ring,’’ tandas Jama.
Memang, mencetak angka untuk memenangkan tim adalah yang paling penting dari satu permainan. Sehebat apa pun aksi pemain satu tim, apa gunanya jika tim itu kalah. Padahal, pemain profesional di Indonesia beberapa masih sering melakukan aksi-aksi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan sehingga merugikan tim.
Dalam sesi group discussion yang mengambil tema konsistensi shooting, para camper di ajak untuk berani menjadi shooter yang hebat. Detlef Schrempf, legenda NBA, yang memimpin sesi itu mengatakan, seorang pemain harus mengenali diri sendiri untuk menjadi shooter andal. Sebab, dengan begitu mereka akan menemukan posisi tubuh yang benar untuk melakukan shooting.
’’Kalau saya cenderung selalu siap shooting dalam setiap pertandingan. Ketika menerima bola, saya selalu mencari posisi dan mengatur kuda-kuda untuk shooting,’’ ujar mantan bintang Seat tle Super- Sonics yang dikenal jago tembakan jarak jauh itu. Meski menahan sakit karena cedera pada bahu kanan, dia juga memberikan contoh posisi terbaik untuk melakukan shooting.
Kerja keras, lanjut Schrempf, adalah kunci menjadi shooter andal. Dia sendiri berlatih ribuan jam sebelum bisa melakukan shooting yang konsisten. Dengan terus berlatih, seorang pemain bisa konsisten memasukkan.
Schrempf sendiri menyatakan, sampai saat ini dia selalu berlatih melakukan shooting. ’’Pemain juga harus menanamkan kepercayaan pada dirinya bahwa setiap shooting yang di lepaskan mampu menghasilkan angka,’’ urai pria yang mengakhiri karir di Portland Trail Blazers itu. Setelah memberikan penjelasan dan contoh, Schrempf kemudian meminta para camper mempraktikkan apa yang baru saja dia ajarkan.
Vittoria A. Walewangko, pemain Citra Satria Jakarta, yang menjadi salah seorang camper merasa mendapatkan pencerahan dari sesi bersama Schrempf itu. ’’Sekarang, saya jadi punya feeling yang lebih baik untuk melakukan shooting,’’ ucap pemain yang berposisi sebagai point guard itu.
Pada akhir sesi, Jama berpesan agar semua materi yang diberikan terus diulang ketika para camper kembali ke klub masing-masing. ’’Mereka harus terus mengasah apa yang kami berikan tadi,’’ terangnya.

Siapa Bisa Hadang Yao Ming Surabaya

Umurnya masih 14 tahun, tinggi badan sudah 201 cm. Di Honda Development Basketball League (DBL) Junior 2010 yang dimulai Sabtu lusa (2/10), ”Yao Ming” Surabaya ini siap merajalela.
Sejak kompetisi basket pelajar DBL dimulai pada 2004, sesekali muncul anak dengan kisah atau kemampuan yang luar biasa. Tahun ini, di kompetisi tingkat SMP, ada satu lagi anak yang siap mencuri banyak perhatian, bikin orang geleng-geleng kepala.
Dia adalah Vincent Rivaldi Kosasih, pemain SMP Cita Hati Surabaya. Usianya baru 14 tahun, tapi tinggi badannya sudah mencapai 201 cm!
Dengan tinggi badan dan kemampuan yang lebih daripada anak-anak lain seusianya, Vincent pun digadang-gadang bisa mengantarkan SMP Cita Hati ke final. Bahkan, timnya termasuk unggulan juara. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah: Siapa bisa menghadang ”Yao Ming”-nya Surabaya ini?
Sebenarnya, wajar kalau Vincent punya tinggi badan dan kemampuan basket lebih. Memang ada tradisi basket di keluarganya. Sang papa, Lie Tjui Tek, 46, merupakan pemain andalan Halim Kediri pada era 1980-an. Sedangkan, sang mama, Tjinggawati Ha lim, 43, dengan tinggi 172 cm bermain untuk klub Utama Jogjakarta pada era yang sama.
Sebagai orang tua, mereka memang ingin anaknya berkarir di basket serta memiliki postur yang memadai. Namun, keduanya tidak mau memaksakan sang anak. Bahkan, mulanya Vincent ogah main basket. Waktu usia 10 tahun dan diajak untuk mulai belajar basket, Vincent sempat menolak. Padahal, tinggi badan sudah 180 cm.
”Pernah waktu itu saya ditanya sama teman, kenapa kok anakmu tidak mau ikut latihan? Terus saya bilang, masih belum ada rasa ketertarikan. Hal-hal seperti itu memang tidak perlu dipaksakan langsung. Harus secara perlahan,” tutur Lie Tjui Tek yang memiliki tinggi 195 cm.
Vincent mulai serius berlatih, lanjut sang papa, ketika masuk SMP dan mendengar ada kompetisi basket heboh DBL. ”Sejak saat itu, dia mulai serius belajar dan berlatih,” ungkapnya. Vincent memulai debutnya di kompetisi tersebut pada Honda DBL Junior 2009. Waktu itu, dia sudah memperkuat SMP Cita Hati dan tingginya mencapai 194 cm. Sayang, saat itu Cita Hati hanya menembus babak big eight (delapan besar).
Vincent dkk ditundukkan oleh SMP Angelus Custos 1 Surabaya, yang kemudian melangkah jadi jawara. Belajar dari pengalaman, Vincent terus meng-upgrade kemampuan fundamental.Setiap pagi, dia berangkat lebih awal, berlatih di lapangan basket sekolah. Kini, tinggi Vincent sudah menembus dua meter. Badannya juga mulai ”terisi.” Dia pun menjadi salah seorang pemain penting Cita Hati.
Menurut Made Edgard, kapten tim, Vincent kini seperti jadi ikon basket sekolahnya. ”Tahun lalu dia seperti belum punya feel yang pas. Sekarang Vincent sudah lebih mantap. Baik dari skill maupun postur. Ini menambah rasa percaya diri tim.
Kami siap untuk menang!” kata Edgard. Di usia yang baru 14 tahun (lahir di Madiun, 17 Juni 1996), Vincent masih bisa terus tumbuh. Sulit dibayangkan, berapa tinggi dia nanti ketika SMA dan berlaga di DBL tingkat SMA. Kalau dia terus kerja keras, sulit dibayangkan pula seberapa hebat dia nanti.
Vincent sendiri tidak mau membayangkan terlalu jauh. ”Lihat saja nanti. Yang penting, saya bisa terus berlatih dengan baik dan meng-upgrade skill,” ucapnya. Yang penasaran ingin melihat aksi anak 14 tahun bertinggi badan 201 cm itu tidak perlu menunggu terlalu lama.
Vincent dan tim SMP Cita Hati akan tampil melawan SMP Petra 3 Surabaya pada hari pembukaan Honda DBL Junior 2010 di DBL Arena Surabaya, Sabtu, 2 Oktober lusa.
Pada hari itu, juga ada pertandingan ekshibisi internasional seru, yaitu tim National Basketball League (NBL) Indonesia, CLS Knights Surabaya, melawan tim State Basketball League (SBL) All- Star dari Western Australia. Hari pembukaan Honda DBL Junior 2010 itu open gate pukul 14.00 WIB.

Termotivasi Ikuti Jejak Frateran

OPENING Party Honda Development Basketball League (DBL) Junior 2010 akan diselenggarakan pada 2 Oktober lusa. Namun, antusiasme sekolah-sekolah yang berlaga di opening mulai terasa.
Mereka tidak sabar menyaksikan tim sekolahnya berlaga di pertandingan pembuka Honda DBL Junior 2010. Semangat para pelajar SMP itu jelas terasa ketika panitia Honda DBL Junior 2010 mengadakan road show kemarin (29/9).
Sekolah yang dikunjungi pada hari pertama adalah SMPN 12 Surabaya dan SMP Angelus Custos 1 Surabaya. Di AC 1 (julukan SMP Angelus Custos 1), road show tersebut diikuti ratusan pelajar yang memadati aula sekolah. Selain itu, hadir para staf pengajar dan Kepala SMP Angelus Custos 1 Frater M. Herman Yoseph. Mereka antusias mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan panitia.
Roadshow dibuka dengan penampilan tim yel-yel. Aksi mereka langsung disambut positif para pelajar AC 1. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan dari kepala SMP Angelus Custos 1 Surabaya serta perkenalan anggota tim basket putra dan putri. ”Kami cukup bangga bisa mengikuti even sebesar Honda DBL Junior 2010.
Dalam keikutsertaan yang ketiga ini, kami berharap bisa mengikuti jejak saudara tua, yaitu SMA Frateran Surabaya, dengan mengawinkan gelar juara putra dan putri,” terang Frater M. Herman Yoseph. Keinginan SMP Angelus Custos 1 mengawinkan gelar juara Honda DBL Junior 2010 mendapatkan dukungan penuh dari seluruh elemen sekolah. Para guru, pelajar, dan wali murid AC 1 siap memberikan support total dalam setiap pertandingan yang dilakoni.
Antusiasme serupa terasa ketika road show di SMPN 12 Surabaya. Ratusan pelajar Rholaz (julukan SMPN 12 Surabaya) tak mau ketinggalan ikut meramaikan road show itu. Mereka sudah berkumpul di lapangan basket sekolah sebelum road show dimulai. Dalam acara itu, diperkenalkan para pemain dan tim yel-yel dari SMPN 12 Surabaya. Acara itu berlangsung dengan fun. Sebab, di sela-sela acara, para pelajar Rholaz disuguhi games menarik, seperti free throw conga.
”Honda DBL Junior 2010 merupakan even yang selalu dinantikan para pelajar di Indonesia. Sebab, banyak manfaat positif yang bisa didapatkan dari even ini. Salah satunya bisa memperkuat rasa bangga siswa terhadap sekolahnya,” ujar Minoto, kepala SMPN 12 Surabaya.
Pada laga opening party nanti, seluruh komponen SMPN 12 Surabaya bertekad memberikan dukungan secara maksimal. Sebab, mereka bakal bertanding melawan Spensix (SMPN 6 Surabaya). Kemarin juga diadakan NBL Physical Edu cation (PE) Class di SMPN 12 dan SMPN 6 Surabaya.Di acara itu dia dakan pelatihan dasar basket bersama bintang National Basketbal League (NBL) Indonesia Elia Prana Bukit dan Dwi Haryoko dari CLS Knights.

Kejar Supporter Awards

PARA pendukung Rholaz (julukan SMPN 12 Surabaya) punya misi khusus untuk Honda DBL Junior 2010. Mereka ingin mengejar gelar Supporter Awards.
Ketua OSIS sekolah itu, Farida Zahira, mengoordinasi temante mannya untuk menyukseskan target penting tersebut. Beberapa hari terakhir, Farida mulai mendata nama-nama pelajar yang akan ikut menjadi suporter Rholaz.
Dia bersama teman-temanya menyiapkan kreasi khusus untuk mendukung tim kesayangannya di DBL Arena nanti. Dia berjanji para suporter Rholaz akan menampilkan atraksi berbeda dan tidak biasa.
”Bentuk kejutannya bisa dilihat opening party nanti. Maklum, kami bakal ketemu dengan Spensix. Mereka salah satu saingan berat kami merebut Supporter Awards. Pokoknya, kami siap habis-habisan bersaing secara sportif dengan mereka,” ujar Farida.Para suporter Rholaz rajin berdiskusi dengan para guru. Mereka ngobrol banyak agar jadi suporter santun dan tidak bikin malu.

Dimas MVP IDC 2010

Dimas Aryo Dewanto menjadi bintang Indonesia Development Camp (IDC) 2010. Saat closing ceremony di C-Tra Arena Bandung, kemarin, dia dinobatkan sebagai most valuable player (MVP) alias pemain terbaik
Dibanding 39 camper lain yang merupakan pemain National Basketball League (NBL) Indonesia, Dimas memang paling menonjol. Pemain Pelita Jaya Esia Jakarta itu menunjukkan kelebihan pada tiga kriteria yang ditentukan tim pelatih dari NBA. ’’Dimas layak mendapatkannya (MVP IDC 2010, Red). Dia memenuhi semua kriteria yang kami tetapkan. Dia pemain andalan Indonesia di masa depan,’’ puji Jama Mahlalela (basketball operations director NBA Asia).
Tiga kriteria yang ditetapkan NBA untuk memilih MVP adalah menunjukkan skill yang bagus di lapangan, mampu memberikan pengaruh positif kepada temantemannya, serta menunjukkan perkembangan secara konsisten selama camp. Sejak dimulai Selasa lalu (21/9), rangkaian acara yang disusun dan materi yang diberikan dalam IDC memang didesain untuk mengukur tiga hal itu.
Pada awal camp, setiap camper diarahkan untuk menunjukkan bakatnya. Sejak hari pertama, mereka diberi materi peningkatan kuali tas secara teknis maupun nonteknis. Mulai defense maupun offense.
Materi-materi itu diberikan Jama bersama Detlef Schrempf (mantan pemain Seattle Super Sonics), serta Dan Weiss (business development and basketball program director NBA Japan). Mereka juga dibantu asisten pelatih dari klub NBL. Pada akhir hari kedua dan ketiga, daya serap para camper terhadap materi yang diberikan itu kemudian diukur dalam pertan dingan uji coba.
Untuk melakukannya, 40 pemain dibagi menjadi empat tim yang namanya dibikin sama dengan empat tim di orbital NBA. Yaitu, Sacramento Kings, Portland Trail Blazers, Oklahoma City Thunder, dan Toronto Raptors. Nah, salah satu bukti Dimas memenuhi tiga kriteria itu adalah suksesnya mengantarkan Thunder menjadi tim terbaik IDC.
Dalam final yang belangsung 2 x 10 menit waktu kotor kemarin, Thunder yang dilatih Patrick Andreas Gosal (asisten pelatih Satria Muda Britama Jakarta) menga lahkan Blazers 25-21. ’’Saya tidak menyangka bisa menjadi MVP. Apalagi, tim saya juga jadi tim terbaik,’’ kata Dimas. ’’Selama camp, saya hanya berusaha memberikan yang terbaik bagi tim, dan mengeluarkan semua kemampuan,’’ lanjutnya.
Sebagai apresiasi, IDC menghadiahi Dimas laptop Dell Inspiron Mini. Dimas menyatakan, predikat MVP IDC akan membuatnya termotivasi untuk tampil lebih baik pada musim perdana NBL 2010 yang mulai dihelat bulan depan. Sukses Dimas menjadi MVP diikuti pemain Thunder lainnya, Jeffri. Dia menjadi yang terbaik dalam Dell Long Distance Shootout Contest. Seperti halnya Dimas, Jeffri juga mendapatkan hadiah laptop.
Sebelum laga final Thunder kontra Blazers, dilangsungkan pertandingan kualifikasi antara Raptors melawan Kings. Di laga itu, Raptors menang dramatis 28-27. Penentu kemenangan tim yang dilatih Jama itu adalah Tony Sugiharto.
Pemain asal Muba Hangtuah Indonesia Muda Sumsel itu sukses memasukkan dua free throw kala waktu menyisakan 0,2 detik. Padahal, ketika latihan free throw sebelum break makan siang, dia adalah penembak terakhir yang berhasil melakukannya. Saat itu semua pemain harus memasukkan dua tembakan beruntun sebelum dibolehkan makan. Hari ini para camper kembali ke klub masing-masing.
Mereka kembali berlatih keras untuk mempersiapkan diri menghadapi musim reguler NBL edisi pertama pada 16 Oktober mendatang. Commissioner NBL Azrul Ananda juga mengucapkan terima kasih kepada para camper. Dia berharap mereka bisa memanfaatkan ilmu yang didapatkan selama camp untuk menjadi pebasket yang lebih baik di masa yang akan datang. ’’Saya senang melihat kalian sangat bersemangat. Semangat itu nanti yang ha rus dibawa ke NBL,’’ kata Azrul. ’’Kalian adalah tulang punggung basket Indonesia lima tahun ke depan. IDC adalah awalan yang baik bagi kalian,’’ ujarnya.

Kerja Keras, Latih Fundamental

Berakhir sudah Indonesia Development Camp (IDC) 2010. Selama tiga hari, mulai Selasa (21/9) sampai kemarin (23/9), 40 pemain National Basketball League (NBL) Indonesia belajar kepada NBA di C-Tra Arena, Bandung. Dengan penuh semangat, Legenda NBA Detlef Scrempf memberikan beragam materi. Dia didampingi dua pelatih dari NBA, Jama Mahlalela (basketball operations director NBA Asia), serta Dan Weiss (business development and basketball program director NBA Japan).
Mereka dibantu oleh tiga asisten pelatih NBL Patrick Andreas Gosal (Satria Muda Britama Jakarta), Koko Heru Setyo (Pelita Jaya Esia), dan Tri Prasetyo Utomo (Dell Aspac Jakarta). Pada akhir camp kemarin, tim pelatih berpesan kepada para camper untuk terus bekerja keras mengembangkan diri. Meski sudah berlabel pemain profesional, mereka dipesani agar tidak pernah jemu berlatih teknik fundamental.
Selama tiga hari camp, drill-drill yang diberikan mayoritas memang bertujuan memperkuat teknik fundamental para camper. ’’Melihat performa mereka (camper, Red) dalam uji coba, mereka sudah cukup bagus. Tapi, harus tetap meningkatkan ilmu mereka dengan melatih sendiri apa yang mereka dapatkan di sini,’’ kata Jama Malalela.
Menurut pria asal Kanada itu, camp selama tiga hari itu berjalan sangat baik. Dia tahu, para peserta pasti merasa lelah. Tapi, mereka tidak menunjukkan itu. Mereka terus bertahan untuk menerima materi-materi yang diberikan. Kepada para peserta, Jama mengatakan, dirinya mungkin kembali enam bulan, setahun, atau tiga tahun lagi.
Ketika dia kembali menginjakkan kaki di Indonesia, dia ingin melihat para pemain NBL yang dilatihnya telah tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik. ’’Pelatih-pelatih di IDC me nekankan saya untuk membuat program latihan sendiri di luar program klub, dan saya harus disiplin kepada program saya itu,’’ ucap Valentino Wu wungan, pemain Satya Wacana Angsapura Salatiga.
Schrempf pun yakin para camper akan lebih hebat di masa yang akan datang. Menurut dia, para camper bisa meningkatkan daya saing tim nasional Indonesia jika mereka mau bekerja keras. Dia bisa memberikan prediksi seperti itu karena pernah memberikan camp di beberapa negara Asia lain.
’’Di Korea, pemain-pemainnya lebih muda, tapi fundamentalnya lebih bagus. Sedang di Filipina, kurang lebih skill-nya sama. Hanya, di sana lebih mudah memberikan materi karena postur pemain lebih menunjang,’’ jelas Schrempf. Karena kalah dari segi postur maupun fundamental, untuk mengejarnya tentu para pemain Indonesia harus berlatih dengan sangat keras.
Jangan pernah malu berlatih teknik dasar. Sebab, pemain-pemain d NBA pun masih terus berlatih teknik dasar. Selain berpesan untuk terus bekerja keras meningkatkan kemampuan basket, Schrempf juga mengingatkan para camper untuk mempersiapkan diri ketika tidak lagi bermain basket nanti.
”Kalau beruntung, kalian akan bermain sepuluh tahun di liga. Kalau tidak, mungkin hanya setahun kalian harus pensiun,” pesan Schrempf. Karena itu, mantan pemain Seattle Super Sonics itu berpesan agar para camper terus belajar. Banyak membaca, apa saja untuk mendapatkan ilmu sebanyak mungkin. Ya buku, ya koran, maupun yang lain.
”Pendidikan dan pengetahuan akan membuat kehidupan seseorang terjamin,” kata Schrempf. Schrempf yang pernah masuk tiga kali NBA All-Star memang sosok pe basket yang mempunyai pengalaman hidup lengkap. Hebat sebagai pemain, dia juga mampu menjaga kehidupannya tetap bermakna setelah pensiun. Dia punya bisnis keuangan, yayasan sosial, dan keluarga yang harmonis. Kira-kira, seperti itulah cita-cita setiap atlet, termasuk para pe serta IDC 2010.

Sosialisasikan Aturan Baru agar Cepat Beradaptasi

PT DetEksi Basket Lintas (PT DBL) Indonesia terus melakukan inovasi. Untuk kali kedua, PT DBL Indonesia bersama PB Perbasi mengadakan National Referee Camp (NRC). Salah satu tujuan even ini adalah mempersiapkan kualitas wasit jelang seri perdana National Basketball League (NBL) Indonesia 16–24 Oktober mendatang.
RAUT wajah Nikolas Malimongan terlihat serius. Pandangan pria asal Papua tersebut tidak dilepaskan dari materi yang diberikan penatar PB Perbasi Harja Jaladri di Metropolis Room Graha Pena, Surabaya, kemarin (26/9). Penatar kelahiran Cirebon tersebut mulai memberikan materi soal peraturan dasar basket 2008.
Niko, panggilan Nikolas Malimongan, mengaku sangat antusias mengikuti materi yang diberikan itu. ’’Penambahan pengetahuan ini sangat penting agar semakin mantap,’’ kata Niko. Memang, mulai kemarin sampai 30 September mendatang, PT DBL Indonesia selaku penyelenggara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia dan kompetisi profesional tertinggi tanah air National Basketball League (NBL) Indonesia bersama PB Perbasi menggelar NRC.
Panitia mencatat, 52 peserta yang terdiri atas wasit dan pengawas pertandingan (PP) ikut dalam ajang tersebut. Mereka berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Selain dari semua provinsi di Pulau Jawa, peserta juga datang dari Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, sampai Papua. Mereka mendapatkan ilmu beragam. Juga penataran dan penyegaran wasit lisensi B 1/A dan seleksi wasit A ke FIBA. Selama lima hari peserta akan memperoleh beragam materi pengetahuan basket dan perwasitan.
Harja mengatakan, salah satu poin terpenting acara ini adalah me nyosialisasikan aturan basket 2010. Sejatinya FIBA mulai menerapkan aturan tersebut pada Oktober 2011. Kejuaraan dunia basket di Turki menjadi ajang perkenalannya. Namun, FIBA Asia menjalankan aturan ini mulai Januari 2011. ’’Kami akan coba menyosialisasikan aturan tersebut sedini mungkin agar wasit lekas beradap tasi,’’ kata Harja.
Disisi lain, ada beberapa materi kunci yang dianggap sangat krusial untuk dikenalkan kepada wasit nasional. Misalnya, bentuk lapangan yang berubah, menyesuaikan dengan bentuk NBA, sampai bentuk pakaian yang boleh atau tidak boleh digunakan. Ketua Bidang Kompetisi dan Pertandingan PB Perbasi Abdul Rozak mengatakan sangat berterima kasih atas dukungan PT DBL Indonesia, untuk memajukan sumber daya wasit nasional. Sebab, wasit adalah salah satu elemen paling penting dalam pertandingan.
’’Istilahnya, no referee no game. Kalau wasitnya nggak maksimal, permainan yang baik omong kosong,’’ jelas Rozak. Commissioner NBL Indonesia Azrul Ananda menegaskan, wasit merupakan masalah krusial. Sebab, partisipasi pebasket remaja semakin tahun semakin meningkat. Azrul memperkirakan dalam dua tahun saja dorongan partisipasi itu terus membesar dan menguat. ’’Kalau kita tidak siap, itu akan berbahaya,’’ tandasnya.

Dua Terbaik Berhak ke Singapura

PELAKSANAAN National Referee Camp (NRC) memasuki babak akhir. Kemarin sejumlah tes dilakukan. Hari ini akan ditentukan siapa saja wasit yang lulus dan bisa menggapai jenjang lisensi setingkat di atasnya. Pada hari keempat NRC kemarin, pemberian materi terkesan tidak seberat sehari sebelumnya.
Pada awal acara, penatar PB Perbasi Harja Jaladri dan Edy Soeprayitno memberikan materi soal aturan 3 on 3 kepada 46 peserta. Mereka terbagi atas 14 wasit lisensi B1 yang ikut penataran agar bisa promosi menjadi lisensi A. Ada juga 9 wasit lisensi A yang ikut penataran agar bisa mendapatkan kesempatan ikut penataran lisensi FIBA. Even edisi kedua itu juga diikuti 14 pengawas pertandingan yang mengikuti penyegaran dan penataran. Sisanya, 1 lisensi FIBA, 6 wasit lisensi A, dan 2 wasit lisensi B1, mengikuti penyegaran.
Selain pertandingan basket pada umumnya, pertandingan 3 on 3 juga dianggap penting. Sebab, cukup banyak even laga tiga lawan tiga di Indonesia. Perbasi juga tidak jarang menyelenggarakan pertandingan itu. Bahkan, juga terdapat piala dunia even tersebut. Pemberian materi 3 on 3 sangat santai dan kadang disertai canda tawa peserta. Namun, keadaan berubah menjadi tegang saat 9 wasit berlisensi A melakukan serangkaian tes. Pertama, mereka melakukan sesi wawancara berbahasa Inggris di Kantor PT DetEksi Basket Lintas (PT DBL) lantai ke- 20 Graha Pena Surabaya.
Setelah melakukan wawancara, mereka bersama 14 wasit lisensi B1 harus menjalani tes tulis. Wasit lisensi A menjalani tes peraturan FIBA 2010 berbahasa Inggris. Sedangkan wasit B1 diuji soal peraturan FIBA 2008. Sebanyak 25 persen soal itu berbahasa Inggris. Wawancara bahasa Inggris yang diikuti 9 wasit lisensi A tersebut sangat penting. Sebab, itu sangat berpengaruh bagi mereka untuk memperebutkan dua tiket mengikuti penataran FIBA Asia di Singapura Desember mendatang.
Tahun ini, Indonesia hanya mendapatkan dua kuota itu. Sedangkan bagi wasit B1, tes tulis sangat penting. Sebab, tes tersebut merupakan faktor penentu bisa tidaknya mereka mendapatkan lisensi A. Kalau tidak lulus, mereka harus mengulang tahun depan.
Wasit berlisensi A asal DKI Jakarta Iswahrul mengatakan sangat tegang saat mengikuti dua tes itu. Sebab, sejak memutuskan menjadi wasit sekitar 7 tahun lalu, kesempatan naik jenjang ke FIBA merupakan salah satu hal yang dia tunggu. Apalagi kalau lolos, dia akan mendapatkan kesempatan mendapatkan penataran di Singapura. ’’Saya sangat mencintai basket. Saya menikmati pekerjaan ini. Kalau mendapatkan kesempatan naik lisensi, tentu saja akan sangat gembira,’’ kata wasit kelahiran 18 Agustus 1977 tersebut.
Harja Jaladri mengatakan, ada tiga faktor yang menentukan lolos atau tidaknya seorang wasit ke level yang lebih tinggi. Ketiga faktor itu adalah lulus teori, fisik, dan praktik di lapangan. Menurut standar FIBA, wasit lolos fisik kalau bisa berlari 86 kali bolakbalik sepanjang 20 meter.Di sisi lain, wasit yang dinyatakan lulus adalah yang mampu mengerjakan 80 persen ujian praktik dan teori. ’’Itu sebuah syarat yang mutlak dan tidak bisa ditawar.
Untuk soal-soal yang diujikan, kami membu tnya semirip mungkin dengan standar FIBA,’’ kata Harja kemarin.Dia menambahkan, selain itu, faktor penguasaan bahasa Inggris bagi wasit pemegang lisensi A yang akan promosi menuju lisensi FIBA juga sangat penting. ’’Sebab, dalam penataran FIBA Asia, bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Kalau memimpin pertandingan internasional, bahasa Inggris juga yang akan digunakan,’’ jelasnya. ’’Kita lihat saja siapa yang promisi dan lulus besok (hari ini, Red),’’ kata pria asal Cirebon tersebut.

Mulai Turun ke Lapangan, Kuatkan Fundamental

Kompleksnya peraturan permainan basket membuat seorang wasit basket dituntut memiliki kejelian ekstra jika dibandingkan dengan cabang olahraga lain. Karena itu, selain penjelasan dalam kelas, National Referee Camp (NRC) memberikan materi lewat praktik di lapangan.
Salah satu tantangan utama dalam mengikuti penataran atau camp adalah melawan perasaan jenuh. Itu pula yang dihadapai 47 peserta National Referee Camp (NRC) 2010. Perasaan bosan dan capek menghantui para camper tersebut saat menerima materi mulai pukul 08.30 sampai 17.15. Karena itu, acungan jempol layak diberikan kepada camper NRC 2010.
Jadwal yang melelahkan tersebut tidak melunturkan antusiasme mereka dalam mendapatkan ilmu. Apalagi, kemarin mereka tidak melulu menerima materi da lam kelas. Sebagian sesi diselenggarakan dengan praktik di lapangan utama DBL Arena, Surabaya. Penatar wasit dari PB Perbasi Harja Jaladri dan Edy Soeprayitno kemarin memberikan materi praktik kepemimpinan wasit.
Materi itu dibagi dua, yakni mekanisme pertandingan dengan dua wasit (two person mechanic and practical training) serta game dengan tiga wasit (three person mechanic and practical training). Materi yang diberikan masih mengacu pada peraturan FIBA 2008. Selepas praktik, 47 camper yang terdiri atas wasit dan pengawas pertandingan tersebut melanjutkan kelas di Metropolis Room 1 Graha Pena.
Mereka mendapatkan teori tentang peraturan basket 2008. ”Hari ini (kemarin, Red) kami memang mendalami lagi peraturan 2008. Itu transisi. Sebab, besok (hari ini, Red) kami belajar tentang aturan baru FIBA, yakni aturan 2010,” papar Harja. NRC adalah edisi kedua penataran wasit helatan PB Perbasi dan PT DBL Indonesia, penyelenggara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia (DBL) dan kompetisi basket profesional tertinggi tanah air (NBL Indonesia).
Diharapkan, peningkatan kualitas wasit lewat NRC secara langsung bisa membantu peningkatkan kualitas liga tersebut. Apalagi, NBL musim pertama diseleng ga rakan mulai 16 Oktober mendatang. ”Di sini ada wasit senior. Saya bisa belajar banyak. Apalagi, setelah ini ada NBL, tambah bersemangat saya,” ucap Kasirin, salah seorang camper.
Wasit berusia 27 tahun itu adalah salah seorang yang memimpin pertandingan Preseason Tournament NBL Indonesia di Malang Juli lalu. Edy menyatakan, sesi yang diberikan kemarin sangat penting dalam memperkuat pengetahuan fundamental wasit. Ada beberapa materi yang diajarkan. Antara lain, prinsip-prinsip advantage dan off the ball coverage. ”Kami belajar banyak soal mekanisme kerja wasit. Pokoknya, sekarang kami mencari kualitas agar perkembangan basket semakin maju,” jelas Edy.

Perbaiki Stamina Supaya Lebih Konsentrasi

Agenda hari ketiga National Referee Camp 2010 sangat berat dan padat. Selain mengikuti materi kelas, para wasit mengikuti tes fisik dan mewasiti pertandingan sesungguhnya.
Peserta National Referee Camp (NRC) 2010 mendapatkan serangkaian ma teri yang berat dan beragam pada hari ketiga kemarin (28/9). Sejak pukul 09.00, 32 wasit yang ikut dalam even itu harus mengikuti physical fitness test di Gedung DBL Arena Surabaya. Mereka harus berlari sejauh 20 meter bolak-balik.
Menurut standar FIBA, seorang wasit minimal harus berlari 86 kali bolak-balik. Seluruh peserta terlihat mati-matian memenuhi standar tersebut. Ada beberapa peserta yang bisa melebihi standar tersebut. Namun, ada juga yang gagal. Peserta asal Jawa Timur Johan Christiana adalah salah seorang yang sukses melalui tes itu dengan baik. Dia memang sudah berpengalaman mengikuti tes ter sebut karena berstatus peserta penyegaran wasit lisensi A.
”Saya juga mempersiapkan fisik sejak bulan puasa lalu. Hasilnya bisa dilihat sendiri,” kata Johan lantas tersenyum lebar. Bagi peserta yang mengikuti pentaran untuk promosi dari lisensi B1 ke A, atau A ke lisensi FIBA, physical fitness test adalah merupakan salah satu syarat penting kelulusan. Sedangkan 14 sisanya yang me rupakan pengawas pertandingan tidak diwajibkan ikut physical fitness test.
Menurut penatar PB Perbasi Harja Jaladri, fisik merupakan elemen penting yang harus dimiliki wasit. Ketahanan fisik sangat berkaitan dengan konsentrasi. Kalau fisik drop, fokus akan turun dan memengaruhi keputusan-keputusan yang diambil. Harja menambahkan, fisik yang kuat harus diimbangi dengan pengetahuan yang mendalam. Karena itu, mulai kemarin Harja memaparkan materi soal peraturan FIBA 2010 di dalam kelas ruang Metropolis Room 1 Gedung Graha Pena.
Harja membagi kelas itu dalam dua sesi, untuk memudahkan pemaparan peraturan FIBA terbaru yang menggantikan aturan 2008. Beberapa pengetahuan yang paling fundamental adalah soal perubahan lapangan basket dan perubahan seragam. ”Ada pula peraturan baru soal bola masuk atau tidak masuk. Lalu, ada aturan soal throw in dan eight seconds. Itu beberapa poin yang penting,” tutur Harja.
Selanjutnya, dalam even yang dihelat PT DetEksi Basket Lintas (PT DBL) selaku penyelenggara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia dan kompetisi profesional tertinggi tanah air National Basketball League (NBL) Indonesia dan PB Perbasi itu, camper juga praktik kelapangan. Mereka adalah 24 wasit yang mengikuti penataran untuk peningkatan lisensi.
Mereka terdiri atas sembilan wasit lisensi A yang berpeluang mengikuti se leksi ke FIBA Asia. Selain itu, ada 14 wasit yang mengikuti penataran dari lisensi B1 ke A. Plus satu wasit yang sudah berlisensi FIBA Asia. Mereka turun untuk mewasiti pertandingan tim Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melawan Universitas Airlangga (Unair).
Kinerja 24 wasit dalam pertandingan itu dinilai oleh Harja dan penatar PB Perbasi lainnya, Edy Soeprayitno. Dalam satu kuarter, ada tiga wasit yang turun. Dalam pertandingan perdana, Unair mengatasi Unesa 65-40. Pada pertandingan kedua Unair menye rah kepada Unesa 46-40. ”Hasil penilaian ini akan kami jadikan per timbangan lulus atau tidaknya para wasit,’’ jelas Harja.

Tes Mental Kandidat Finalis NBL

Bukan hal mudah menghadapi lawan yang belum diketahui kekuatannya. Itu pula yang dialami Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights menjelang international friendly game melawan State Basketball League (SBL) All-Stars pada Sabtu nanti (2/10). Padahal, bagi CLS, uji coba tersebut cukup strategis. Itu adalah uji coba terakhir mereka menjelang seri perdana National Basketball League (NBL) Indonesia pada 16–24 Oktober mendatang di DBL Arena Surabaya.
CLS sendiri menghadapi musim perdana NBL dengan kepercayaan diri tinggi. Itu tidak terlepas dari sukses mereka menembus final Preseason Tournament NBL di Malang pada Juli lalu. Sebab, saat itu tim-tim terbaik NBL turun. Karena itu, CLS pun yakin bisa merebut prestasi yang sama dengan preseason tournament di musim reguler. Pelatih CLS W. Amran mengatakan, laga melawan SBL All-Stars akan menjadi ujian bagi mental tanding skuadnya.
Meski tim yang akan dihadapi bakal memiliki keunggulan fisik dan teknik, Amran menyatakan tidak akan gentar. ’’Yang penting bertempur dulu. Kalah menang itu urusan belakangan. Jangan sampai mental anak-anak bobrok, menyerah sebelum bertanding,’’ kata Amran sebelum memimpin sesi latihan timnya kemarin (29/9). Keberanian penggawa CLS semakin dibutuhkan untuk memberikan perlawanan kepada SBL All-Stars. Sebab, mereka tidak bisa turun dengan skuad terbaik.
Beberapa pemain inti, seperti center Agustinus Indrajaya, duo shooting guard Andrie Ekayana dan Rachmad Febri Utomo, serta guard Effendi Tan, mengalami cedera. Pertandingan CLS melawan SBL All-Stars di DBL Arena akhir pekan ini adalah satu di antara dua pertandingan dalam rangkaian international friendly game. Laga lainnya adalah duel Bimasakti Malang melawan SBL All-Stars sehari sesudahnya.

Senin, 20 September 2010

Menyulap iPod Nano Menjadi Arloji

Sejak awal peluncuran gadget besutan Apple bulan lalu, banyak yang terpana dengan perubahan yang terjadi pada iPod Nano.
Kini Apple iPod Nano memiliki bodi yang 46 persen lebih kecil dan 42 persen lebih ringan dari iPod Nano versi 2009. Ia juga menyediakan tombol fisik untuk volume.
Hilangnya navigasi roda yang digantikan dengan layar multi sentuh, serta bentuknya yang persegi, sempat membuat para audiens bertanya-tanya.
Pada acara peluncuran itu, pendiri dan CEO Apple Steve Jobs sempat setengah berseloroh bahwa gadget mungil ini bisa digunakan sebagai jam tangan.
"Salah satu dari anggota dewan direksi kami akan menjadikannya sebagai sebuah arloji," kata Jobs, seperti dikutip dari situs blog Huffington Post.
Dan ternyata hal itu kini benar-benar diwujudkan oleh produsen aksesoris iPod, Incipio.
Seperti dikutip dari situs teknologi CNet, Incipio baru-baru ini meluncurkan produk baru bernama Linq, yakni sebuah dudukan untuk iPod Nano yang dikenakan di pergelangan tangan.
Dengan aplikasi jam yang dimiliki oleh iPod, Linq benar-benar 'menyulap' iPod Nano menjadi sebuah arloji, tak cuma sekadar alat pemutar musik semata. Linq dibuat dari bahan polymer dengan tali arloji berbahan nylon.
Masalahnya, saat dipakai sebagai jam, kelihatannya agak janggal bila pengguna mendengarkan musik melalui headset berkabel, kecuali bisa dikoneksikan melalui Bluetooth.
Rencananya, Linq bakal mulai dipasarkan pada OKtober mendatang seharga US$ 25 (sekitar Rp 225 ribu).
Sementara, iPod Nano sendiri di dijual seharga 129 poundsterling (atau sekitar Rp1,8 juta) untuk model 8GB dan 159 poundsterling (Rp2,2 juta) untuk model 16GB.

BlackBerry Torch Resmi Masuk Indonesia

BlackBerry Torch akhirnya resmi masuk ke Indonesia. Dilansir melalui situs resmi BlackBerry Indonesia, Research In Motion mengantarkan varian baru perangkat BlackBerry dengan desain slider untuk penggunanya di Tanah Air mulai minggu ini.
Namun, dalam beberapa waktu ke depan, BlackBerry Torch baru akan tersedia di gerai-gerai resmi BlackBerry non-operator. Namun demikian, dua dari tiga operator besar yang juga merupakan mitra resmi RIM telah mengkonfirmasi akan menyediakan BlackBerry Torch 9800 di Tanah Air.
"Sekarang ini sedang kita uji coba secara teknis, baik dari segi jaringan, device, hingga software," kata Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing Indosat saat dihubungi VIVAnews.com beberapa waktu lalu, Jakarta, Sabtu 18 September 2010. "Yang jelas, kami pasti ambil."
Begitu pula dengan XL. General Manager Sales XL Handono Warih mengatakan, "Kami masih uji coba device."
Dijelaskan Teguh, sambil menunggu uji coba rampung, pihaknya terus memantau perkembangan BlackBerry slider itu di Amerika Serikat.
Pemangkasan harga BlackBerry Torch oleh AT&T tidak mempengaruhi rencana Indosat dan XL untuk memboyong ponsel slider nan lebar itu. "Kalau soal harga, kami belum bisa umumkan. Lebih mahal dari Onyx ya," kata Teguh.
"Mungkin sekitar Rp7-8 juta lah," kata Warih. Namun, ia mengatakan harga tersebut masih ancar-ancar, bukan harga resmi. "Sekitar kuartal keempat sudah bisa dirilis," ucap Teguh pada kesempatan berbeda.
Artinya, ada kemungkinan BlackBerry Torch di Indonesia dua juta rupiah lebih mahal dibandingkan di Amerika Serikat.
Sekadar diketahui, BlackBerry Torch adalah perangkat BlackBerry pertama yang mengusung OS BlackBerry 6.0 dengan desain slider. Kombinasi layar sentuh dan keypad Qwerty membuatnya lebih elegan dibandingkan seri-seri sebelumnya.
Memiliki berlayar 3,2 inci dengan resolusi 360 x 480 piksel, BlackBerry Torch 9800 dilengkapi WebKit browser terbaru yang membuatnya mendukung tab browsing dan pinch to zoom. Di sisi memori, ia juga unggul karena dilengkapi memori RAM 512MB, ROM 512MB, dan storage 4GB (dapat ditingkatkan hingga 32GB dengan kartu microSD).
Untuk akses data, BlackBerry Torch 9800 dilengkapi dengan 3G HSDPA/HSUPA, di samping Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth 2.1, dan microUSB 2.0. Perangkat dengan prosesor bertenaga 624 MHz ini juga menyematkan kamera 5MP (2592 x 1944 piksel), lengkap dengan autofocus dan flash LED.

Selamat Datang di Bandung, Schrempf

Sejarah baru akan tertulis di Bandung besok. Di kota yang dijuluki Paris van Java itu, akan diselenggarakan Indonesia Development Camp (IDC) 2010. Even yang diadakan di C-Tra Arena tersebut akan menjadi even pertama liga basket paling bergengsi di dunia, NBA, di sana.
Hari ini (20/9) Detlef Schrempf, legenda NBA yang akan memimpin camp itu, tiba di Bandung.
Selama tiga hari, mulai besok hingga Kamis (23/9), dia akan membagikan ilmu kepada 40 pemain National Basketball League (NBL) Indonesia, kasta tertinggi basket profesional tanah air.
Even pertama NBA di Indonesia sebenarnya terselenggara sejak 2008. Saat itu, bintang Indiana Pacers Danny Ganger datang ke Surabaya dalam rangkaian Honda DBL, kompetisi basket pelajar paling heboh di tanah air. Berikutnya, menyusul David Lee, Kevin Martin, dan Trevor Ariza. Semua bintang NBA tersebut datang ke tanah air berkat kerja sama NBA dengan PT DBL Indonesia.
Bagi fans basket di Bandung, ”monopoli” Surabaya dalam even NBA di tanah air itu mungkin terlihat kurang adil. Sebab, gairah basket di Kota Kembang sebenarnya tidak kalah daripada Surabaya. Di level profesional, Bandung punya klub papan atas Garuda Flexi. Garuda bisa dianggap sebanding dengan Surabaya Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights. Di level pelajar, Bandung juga mampu meloloskan banyak pemain ke tim DBL Indonesia All-Star.
Nah, setelah cukup lama menunggu, kini Bandung mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah even NBA. Schrempf yang bersama Seattle SuperSonics pernah menjadi lawan tangguh Chicago Bulls bersama Michael Jordan pada 1990-an akan berbagi ilmu di sana. Selain menularkan ilmu di IDC, dia akan berbagi dengan anak panti asuhan dalam program NBA Cares.
”Kami senang bisa menyelenggarakan even NBA di Bandung. Selama ini, praktis belum ada even internasional di Bandung, padahal kota ini memiliki fan base basket yang kuat,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.
Azrul sebenarnya mulai ”memperkenalkan” gairah Bandung kepada NBA pada Februari lalu. Saat itu, ada perwakilan NBA Asia yang menghadiri pembukaan seri Honda DBL di sana.
”Selain Bandung, sebenarnya Jogjakarta dipertimbangkan untuk menjadi tuan rumah even NBA. Namun, Bandung akhirnya kami pilih karena gedung basket di Jogjakarta belum siap,” jelas Azrul.
Azrul berharap IDC 2010 bisa berjalan dengan sukses. Sebab, itu akan menjadi pintu bagi Bandung untuk mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah even-even NBA selanjutnya.
Tidak hanya 40 pemain NBL yang bisa belajar dari Schrempf. Fans basket di Bandung pun bisa. Sebab, IDC terbuka untuk umum, meski mereka hanya melakukannya dari tribun C-Tra Arena.
Schrempf rencananya tiba di Bandung sore ini. Besok pagi dia sudah ditunggu agenda padat IDC. Setelah brifing singkat bersama NBA dan DBL Indonesia pada pukul 08.00 WIB, setengah jam kemudian dia sudah harus di C-Tra Arena untuk menghadiri acara pembukaan IDC 2010. Setelah itu, dia langsung sibuk memimpin camp.
”Tidak sabar rasanya untuk mengikuti IDC. Saya bisa belajar langsung kepada salah seorang bintang terhebat di dunia,” kata guard Garuda Flexi Bandung Hendru Ramli.
IDC 2010 merupakan camp NBA edisi kedua di Indonesia. Tahun lalu Kevin Martin menjadi bintang utama dengan dibantu dua asisten pelatih NBA Neal Meyer (Los Angeles Clippers) dan Joe Prunty (Portland Trail Blazers). Tahun ini DBL Indonesia pada awalnya juga berencana mendatangkan pemain aktif. Namun, karena bersamaan dengan Ramadan, IDC baru bisa diselenggarakan pada pekan terakhir September. Padahal, saat ini para pemain sedang fokus mempersiapkan diri menghadapi musim NBA 2010–2011.
Setelah ditimbang-timbang, akhirnya dipilihlah Schrempf. Dia memiliki curriculum vitae yang luar biasa. Pria yang terpilih tiga kali masuk All-Star itu merupakan salah seorang forward terhebat pada 1990-an. Dia menjadi salah satu kunci sukses Sonics menembus final NBA musim 1995–1996. Mereka akhirnya harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan Bulls bersama Jordan.
Schrempf bakal menjadi guru yang baik selama camp karena dia pernah menjadi asisten pelatih pada 2006 di Sonics. Kelebihan yang sulit untuk didapatkan jika yang didatangkan adalah pemain yang masih aktif.

Tidak Pernah Puas untuk Belajar

Tujuan utama Indonesia Development Camp (IDC) 2010 sebenarnya adalah untuk mengakselerasi perkembangan para pemain muda National Basketball League (NBL) Indonesia. Namun, bukan berarti even yang diselenggarakan NBA bareng PT DBL Indonesia itu bakal ”dimonopoli” pemain nonbintang. Beberapa pemain yang punya nama juga akan menimba ilmu dari sana.
Salah satunya adalah forward Satria Muda (SM) Britama Jakarta Christian Ronaldo Sitepu. Pemain yang akrab disapa Dodo itu sebenarnya sudah hebat untuk ukuran forward di tanah air. Di tim rakasa sekelas SM, dia langganan starter. ”Usia Dodo (22 tahun, Red) memenuhi syarat untuk ikut IDC. Karena itu, kami memilih dia untuk ikut. Meski dia adalah starter, even tersebut sangat berharga karena dia bisa belajar langsung dari sosok hebat dari negara asal basket,” kata Fictor Roring Gideon, pelatih SM, kepada Jawa Pos kemarin (18/9).
Memang, legenda NBA yang didatangkan IDC 2010 tidak main-main. Dia adalah mantan bintang Seattle SuperSonics Deltef Schrempf. Pemain yang tiga kali masuk All-Star NBA itu mampu membantu Sonics menjadi salah satu lawan tangguh Chicago Bulls pada era Michael Jordan. IDC 2010 akan diselenggarakan di C-Tra Arena Bandung pada 21–23 September. Selama tiga hari camp, memang sulit menyulap 40 camper lebih hebat daripada sebelumnya. Namun, setidaknya para pemain yang usianya berkisar 21–23 tahun itu akan mendapatkan bekal untuk lebih maju setelah camp.
”Tidak ada istilah terlambat untuk belajar. Saya senang tim-tim NBL juga mengirimkan para pemain yang sebenarnya sudah berstatus bintang untuk mengikuti camp,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia. Selain Dodo, pemain bintang lain yang ikut IDC adalah forward Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights Dwi Haryoko. Selama Preseason Tournament NBL di Malang Juli lalu, dia selalu menjadi starter. Dia mampu membawa CLS menembus final. Mereka menjadi runner-up setelah di partai puncak dikalahkan SM. ’’Ikut IDC akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya,’’ kata Dwi.
Pemain kelahiran Purwokerto tersebut merasa beruntung karena posisinya sama dengan Detlef. Dia pun dituntut memiliki kemampuan seperti Detlef, punya akurasi tembakan jarak jauh yang bagus sekaligus tangguh dalam menerobos jantung pertahanan lawan. ’’Kalau lihat posisi dan posturnya, dia (Detlef, Red) memang berperan hampir sama dengan yang saya mainkan selama ini. Semoga dalam tiga hari itu, saya mendapatkan ilmu lebih,’’ kata pemain bertinggi 193 cm tersebut.
IDC 2010 merupakan edisi kedua camp NBA di Indonesia. Pada 2009, IDC edisi pertama diselenggarakan di DBL Arena Surabaya. Tahun lalu, program itu ditujukan ke pada pemain terbaik liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Development Basketball League (DBL). Baik NBL Indonesia maupun DBL sama-sama dikelola oleh PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia yang ber pusat di Surabaya.

Bangga Dilatih Pemain Idola

Kedatangan salah seorang legenda NBA Detlef Schrempf disambut positif oleh insan basket tanah air. Terutama, 40 pemain National Basketball League (NBL) Indonesia yang terpilih untuk belajar kepadanya di Indonesia Development Camp (IDC) 2010. Kemarin (16/9) NBL mengumumkan nama-nama camper yang akan mengikuti even di GOR C-Tra Arena Bandung pada 21–23 September tersebut.
Bagi beberapa camper, Schrempf bukan sosok yang asing. Misalnya, bintang anyar Pelita Jaya Jakarta Dimas Aryo Dewanto. Pemain yang sebelumnya memperkuat Bimasakti Malang itu menyatakan kagum dengan sosok pemain yang tiga kali terpilih masuk NBA All-Star tersebut.
Kekaguman Dimas itu muncul ketika sering menyaksikan aksi Schrempf lewat layar televisi, saat dia masih duduk di sekolah dasar. Salah satu yang paling dikenang adalah gaya keras Schrempf saat main. ”Saya masih ingat benar bagaimana dia duel dengan Dennis Rod man (pemain nyentrik Chicago Bulls, Red),” kata Dimas kepada Jawa Pos kemarin.
Siapa sangka, setelah belasan tahun mengagumi Schrempf lewat televisi, kini Dimas bisa bertemu langsung dengan pemain asal Jerman itu. Bahkan, Dimas bisa belajar dari pemain yang menuai banyak prestasi hebat bersama Seattle SuperSonics tersebut.
”Dia (Schrempf, Red) jago banget. Saya pasti akan belajar trik-trik baru, terutama untuk membaca situasi permainan. Pasti kami akan mendapatkan banyak sekali ilmu,” kata pemain kelahiran Malang tersebut.
Hal senada dikatakan forward Satya Wacana Angsapura Salatiga Valentino Wuwungan. Dia mengatakan sangat antusias bisa terpilih dalam IDC. Bagi dia, berkesempatan mendapatkan ilmu dari legenda NBA seperti Schrempf adalah pengalaman yang tak ternilai. ”Saya harap, ada perubahan mindset dalam permainan basket kami. Yang pasti, saya dan teman-teman sangat gembira bisa mendapatkan ilmu dari mantan pemain level internasional,” tuturnya.
Kegembiraan ekstra ditunjukkan guard Garuda Flexi Bandung Hendru Ramli. Itu tidak lepas dari diadakannya IDC di kotanya. ”Saya semakin bersemangat karena camp diadakan di Bandung,” ujar pemain 22 tahun tersebut.
Dalam daftar camper IDC yang dirilis NBL kemarin, Satya Wacana mengirimkan wakil terbanyak. Total, delapan pemain Satya Wacana akan terbang ke Bandung mengikuti camp. Tim yang dilatih Danny Kosasih itu mengirimkan pemain terbanyak karena merekalah tim termuda di NBL.
”IDC memang untuk pemain muda. Satya Wacana Angsapura adalah tim yang punya pemain muda terbanyak. Karena ada sejumlah klub yang tidak punya banyak pemain muda, kuota kami alihkan ke klub lain seperti Satya Wacana,” jelas Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.
IDC 2010 merupakan yang kedua di Indonesia. Pada 2009, IDC yang pertama diselenggarakan di DBL Arena Surabaya. Waktu itu, program ditujukan kepada pemain-pemain terbaik Development Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia.

CLS Knights Genjot Fisik dan Defense

Berakhir sudah libur Lebaran para pemain Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights. Kemarin (15/9) mereka kembali berlatih di GOR Kertajaya, Surabaya. Tujuannya tentu saja mempersiapkan diri menghadapi seri perdana National Basketball League (NBL) Indonesia 2010–2011 mulai 16 Oktober mendatang.
Fokus utama latihan tersebut adalah mengembalikan kondisi fisik pemain. Selain itu, mereka berlatih pematangan taktik, terutama strategi menyerang dan bertahan. Review pola permainan juga dilakukan.
Dalam latihan perdana tersebut hampir semua pemain hadir. Hanya small forward Rachmad Febri Utomo dan point guard Dimaz Muharri yang belum bergabung. Febri masih berada di daerah asalnya, Solo, sedangkan Dimaz belum kembali dari kampung halamannya di Binjai, Sumatera Utara.
Selain itu, pelatih kepala CLS W. Amran juga belum bergabung. Karena itu, latihan kemarin dipimpin asisten pelatih Erwin Triono dan manajer Simon Wong.
Simon mengatakan, CLS sangat serius mempersiapkan diri menyambut seri perdana regular seasons. Menurut dia, ada beberapa aspek yang harus dibenahi para pemain. Terutama terkait dengan evaluasi hasil pertandingan persahabatan awal September lalu.
CLS sudah lima kali beruji coba dalam rentang 30 Agustus sampai 3 September di Jakarta. Dalam tryout tersebut, CLS dua kali menang, dua kalah, dan sekali seri.
Dua kali kemenangan dipetik dari Pelita Jaya Esia Jakarta (66-64) dan Muba Hangtuah IM Sumatera Selatan (75-71). Kekalahan didapat dari Stadium Jakarta (47-63) dan Garuda Flexi Bandung (51- 82). Sedangkan hasil seri diperoleh saat melawan Aspac Jakarta (78-78). ’’Hasil tersebut memang tidak terlalu buruk. Namun, kami akan mencoba memaksimalkan waktu sebulan ini untuk memperbaiki performa tim,’’ tandas Simon.
Dihubungi terpisah, W. Amran mengatakan, hasil pertandingan persahabatan itu cukup membuat dirinya ketar-ketir menjelang seri perdana. Meski hanya tryout, Amran mengatakan bahwa fisik pemain masih kurang bagus. Selain itu, defense pemain harus diperbaiki karena barisan pertahanan tim Kota Pahlawan ini gampang sekali ditembus.
’’Permainan anak-anak belum stabil. Kami akan memperbaikinya dalam waktu sebulan ini. Memang dalam uji coba, kami turun dengan mayoritas second team. Tetapi, itu bukan alasan tampil buruk,’’ katanya. Amran akan menggenjot skill pemain sekembalinya dia ke Surabaya besok.
Hal senada diungkapkan point guard muda Wijaya Saputra. Menurut dia, ada beberapa faktor yang harus dimantapkan jelang seri perdana NBL. Misalnya, defense, tansisi antara menye rang dan bertahan, serta kondisi fisik. Tiga hal tersebut, kata Wijaya, wajib dimaksimalkan agar CLS dapat bersaing dalam NBL dan mencapai target final.
’’Soalnya, NBL ini kan panjang. Semua tim bisa saling mengalahkan. Kami harus lebih fokus. Terutama mempelajari pengalaman bermain sewaktu uji coba,’’ katanya.

Karir Dahsyat, Hidup Komplet

Penggemar berat NBA, khususnya era Michael Jordan, tentu kenal Detlef Schrempf. Bintang Seattle SuperSonics asal Jerman berwajah “kejam” era 1990-an. Pekan depan, dia akan hadir di Bandung, melatih pemain-pemain muda National Basketball League (NBL) Indonesia.         
Detlef Schrempf, menurut National Basketball League (NBL) Indonesia, merupakan sosok yang cocok untuk dihadirkan ke Indonesia dan melatih bintang-bintang muda liga tertinggi di tanah air tersebut.          
“Idealnya, yang datang memang pemain aktif. Namun, karena Ramadan, kami baru bisa menyelenggarakan Indonesia Development Camp 2010 di bulan September. Padahal, di saat yang sama, tim-tim NBA sudah menyiapkan diri menghadapi musim 2010-2011,” ungkap Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.
Azrul melanjutkan, setelah dipikir-pikir, seorang legenda dengan pengalaman melatih justru lebih tepat. “Yang dilatih ini kan pemain-pemain profesional muda. Jadi butuh ilmu dari yang sudah sangat berpengalaman. Bukan dari sesama pemain, walaupun dia pemain NBA. Dan Detlef merupakan sosok ideal,” ujarnya.
Alhasil, setelah menimang-nimang sejumlah opsi, NBL Indonesia (di bawah pengelolaan PT Deteksi Basket Lintas Indonesia) dan NBA pun sepakat untuk mendatangkan Detlef Schrempf. Dia akan tampil di GOR C-Tra Arena Bandung, 21-23 September nanti, melatih 40 pemain muda NBL Indonesia.
Sebab, selain pernah jadi bintang NBA, Schrempf juga pernah menjalani karir sebagai asisten pelatih di liga tersebut. Daftar pengalamannya komplet!
Sebagai pemain dulu, Schrempf punya curriculum vitae yang luar biasa. Lahir pada 21 Januari di Leverkusen, Jerman, dia pindah ke Amerika Serikat saat masih remaja.          
Saat masih SMA, dia langsung jadi bintang basket. Pada 1981 dia mengantarkan sekolahnya, Centralia High School di Centralia, Washington (dekat Seattle) menjadi juara negara bagian.
Dari situ, dia masuk University of Washington, dan kembali jadi bintang NCAA (liga mahasiswa di AS). Tidak tanggung-tanggung, media olahraga bergengsi The Sporting News memasukkannya dalam daftar All-America Second Team.          
Karir NBA pun menjadi kelanjutan yang normal. Pada NBA Draft 1985, Dallas Mavericks mencomotnya di urutan delapan. Dia pun menjadi pemain kelahiran Jerman pertama yang menembus NBA.
Dari sana dia melanjutkan karir ke Indiana Pacers. Sukses mulai ditapak, karena di tim itu dia dua kali meraih penghargaan NBA Sixth Man Award (1991 dan 1992). Pada 1993, dia juga terpilih masuk NBA All-Star untuk kali pertama.
Versatility, alias kemampuan bermain di berbagai posisi, merupakan kekuatan utama Schrempf. Dengan tinggi badan 208 cm, dia punya kemampuan menembak tiga angka yang dahsyat, memancing pemain-pemain besar lawan untuk menjaga keluar, membuka ruang bagi rekan setim untuk mengobrak-abrik bagian dalam.
Selain itu, badannya yang tinggi juga membuatnya jadi andalan di sisi dalam. Kemampuan passing yang melebihi rata-rata membuatnya semakin membingungkan lawan.
Usai musim 1992-1993, Schrempf ditukar ke Seattle SuperSonics. Di sana, di kawasan tempatnya sekolah SMA dan kuliah, karirnya pun melonjak. Sampai hari ini, orang masih mengingat Schrempf sebagai bintang SuperSonics.
Bagaimana tidak. Di Sonics, dia bergabung di tim yang hebat. Ada point guard handal Gary Payton, ada monster slam dunk Shawn Kemp, plus bintang veteran seperti Sam Perkins dan Hersey Hawkins.
Pada musim 1994-1995, Schrempf mencatat rata-rata 19,2 poin dan 6,2 rebound. Alhasil, dia pun terpilih lagi masuk NBA All-Star, dan terpilih masuk All-NBA Third Team.
Pada 1995-1996, Schrempf sempat miss 19 pertandingan karena retak tulang kaki. Namun, dia tetap menjadi salah satu opsi utama tim, mengantarkan Sonics ke babak final NBA. Sayang, di final mereka harus bertemu dengan tim dominan bernama Chicago Bulls, yang mengandalkan seorang pemain kondang bernama Michael Jordan.
Pada 1996-1997, Schrempf terus tampil garang. Dia pun terpilih untuk kali ketiga masuk NBA All-Star. Baru setelah itu, di usia yang semakin jauh di atas angka 30, karir Schrempf “melamban.” Pada 1999, SuperSonics melepasnya.
Tidak mau tinggal terlalu jauh dari Seattle (tempat tinggalnya sampai sekarang), Schrempf pun memilih bergabung di Portland Trail Blazers (Portland tiga jam naik mobil dari Seattle). Di sana, Schrempf melanjutkan karir sampai akhir, gantung sepatu pada 2001.
Sebenarnya, sejak 2000 Schrempf sudah ingin pensiun. Di usia sudah mendekati 38 tahun, berbagai cedera mulai melanda. Khususnya leher. Hanya saja, Blazers tak mau melepasnya sampai kontrak berakhir pada 2001. Alasannya, Blazers ingin Schrempf selalu siap, jaga-jaga kalau klub itu kekurangan pemain. Jadi, meski jarang main, di musim terakhirnya Schrempf tetap digaji penuh, di kisaran USD 2 juta.
“Leher saya sebenarnya sudah tidak apa-apa. Tapi bagian badan saya yang lain sudah mulai kesakitan,” kata Schrempf waktu itu, seperti dilansir Associated Press.
Setelah 15 tahun lebih di NBA, Schrempf pun bisa menikmati hidup di Seattle. “Saya cinta basket. Tapi, pada saat yang sama, itu hanyalah sebuah olahraga. Saya sangat senang bisa hidup tenang di rumah,” ucapnya usai pensiun.
Pada 2006, Schrempf sempat menjajal hidup menjadi asisten pelatih NBA. Menjadi pendamping bagi head coach Bob Hill di –tentu saja—Seattle SuperSonics.
Kini, Schrempf tinggal bersama istrinya, Mari, yang dulu juga atlet nasional Jerman (cabang lompat galah). Dia punya dua anak. Salah satunya juga bakat basket. Alexander Jordan Schrempf kini bermain untuk UCLA di NCAA.
Schrempf juga punya bisnis pengelolaan finansial. Tapi, dia paling dikenal lewat Detlef Schrempf Foundation. Yayasan untuk kegiatan sosial di kawasan Seattle itu dia dirikan bersama sang istri pada 1996.
Mungkin, masih ada legenda NBA lain yang punya karir lebih dahsyat dari Schrempf. Tapi, mungkin tak banyak yang punya pengalaman hidup selengkap dia. Pengalaman yang bisa dia bagikan bersama pemain-pemain muda NBL Indonesia ketika di Bandung nanti.

NBA Dan NBL Indonesia Selenggarakan IDC yang ke-2

Untuk tahun kedua, Indonesia Development Camp (IDC), hasil kerja sama National Basketball Association (NBA) dengan National Basketball League Indonesia (NBL), akan diselenggarakan pada 21-23 September 2010 di C-Tra Arena Bandung. Camp ini akan meneruskan upaya untuk mengembangkan pemain-pemain muda berbakat dan meningkatkan level permainan basket Indonesia.
Detlef Schrempf, yang pernah tiga kali masuk NBA All-Star dan dua kali meraih gelar NBA Sixth Man of the Year, akan tampil sebagai pelatih camp tersebut. Dia akan dibantu oleh pelatih-pelatih dari NBL Indonesia, untuk memberi materi tingkat advance kepada 40 pemain muda yang mewakili sepuluh tim NBL Indonesia.
Camp ini akan berisikan latihan intensif dan program pengembangan pemain lain. Para camper akan mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu yang baru mereka dapat dalam pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan setiap hari setelah sesi latihan. Seminar motivasi life-skill juga diselenggarakan dalam berbagai tema, seperti leadership, strength and conditioning, serta teamwork. Pada hari terakhir camp, akan dipilih Dell Most Valuable Player (MVP) dan tim All-Star IDC. Sebagai hadiah, sang MVP akan membawa pulang sebuah laptop Dell termutakhir.
“Kami senang bisa bekerja sama dengan NBA dan membawa kembali camp basket kelas dunia ke Indonesia,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia. “Belajar dari salah satu legenda NBA paling terkenal dan profesional akan banyak membantu meningkatkan kualitas pemain-pemain muda kami,” tambahnya.
“Penyelenggaraan kedua Indonesia Development Camp memberi NBA kesempatan lagi untuk membantu perkembangan basket di Indonesia,” ujar Scott Levy, senior vice president and managing director NBA Asia. “Camp ini akan membantu mengembangkan skill calon-calon bintang NBL masa depan, dan meningkatkan kualitas permainan secara keseluruhan di Indonesia,” lanjutnya.
Official partner camp ini adalah Dell dan DBL Indonesia. Spalding hadir sebagai official supplier, serta Vision 1 Sports sebagai media partner.
Even resmi pertama NBA di Indonesia diselenggarakan pada 2008, ketika forward Indiana Pacers, Danny Granger, tampil di sebuah klinik basket dan menghadiri final Development Basketball League (DBL) di Surabaya. NBA lantas kembali pada 2009 dengan Indonesia Development Camp yang pertama, untuk 48 pemain muda terbaik DBL, di DBL Arena. Pemain Sacramento Kings (kini Houston Rockets) Kevin Martin, serta asisten pelatih Portland Trail Blazers (kini di Cleveland Cavaliers) Joe Prunty dan mantan asisten pelatih Los Angeles Clippers Neal Meyer hadir sebagai pelatih camp.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.NBA.com dan www.NBLIndonesia.com.
Tentang NBA
NBA berdiri pada 1946, sebagai liga profesional dan bisnis global yang menampilkan 30 tim di Amerika Serikat dan Kanada. Pada musim 2009-2010, pertandingan NBA ditayangkan ke 215 negara dan kawasan dalam 41 bahasa. Pencapaian global liga ini juga ditunjukkan dengan adanya 83 pemain internasional mewakili 36 negara dan kawasan di tim-tim NBA. Lebih lanjut, merchandise NBA dijual di lebih dari 100 ribu toko di 100 negara di enam benua. NBA.com memiliki rata-rata lebih dari 26 juta page-view per hari, dan lebih dari 50 persen pengunjungnya datang dari luar Amerika. Lewat NBA Cares, liga beserta tim dan pemain-pemainnya telah menyumbangkan lebih dari USD 115 juta untuk kegiatan sosial, meluangkan lebih dari satu juta jam kerja untuk masyarakat di seluruh dunia, dan menciptakan lebih dari 440 tempat di mana anak-anak dan keluarga bisa tinggal, belajar, atau bermain.

Tentang NBL Indonesia
National Basketball League (NBL) Indonesia adalah liga basket tertinggi di Indonesia. Liga ini dikelola oleh PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, penyelenggara Development Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia. Sebelum ini, NBL Indonesia dikenal dengan nama Indonesian Basketball League (IBL). Namun, karena berbagai masalah finansial dan organisasional, para tim peserta dan PB Perbasi harus mencari penyelenggara baru. Sukses DBL, dengan total lebih dari 24 ribu partisipan dan 500 ribu penonton pada 2010, membuat PT DBL Indonesia sebagai pengelola paling ideal. Pada Januari 2010, PT DBL Indonesia secara resmi mengambil alih IBL, lalu meluncurkan ulang liga itu dengan sebutan NBL Indonesia. Azrul Ananda, direktur PT DBL Indonesia, menjadi commissioner baru liga profesional tersebut. Sepuluh klub akan berpartisipasi di musim perdana NBL Indonesia 2010-2011.

Selasa, 14 September 2010

Karier Iverson di NBA Terancam Tamat

Karier Allen Iverson di Liga Basket Amerika (NBA) tampaknya tak akan berlanjut lagi. Hingga saat ini belum ada satu pun klub NBA yang menyatakan minatnya untuk merekrut pemain berusia 35 tahun itu. Padahal kompetisi musim 2010/2011 akan dimulai pada Oktober mendatang. Pemain Terbaik NBA 2001 itu tengah mempertimbangkan opsi untuk bermain basket di Cina.
Manajer Iverson, Gary Moore, menyatakan dalam dua minggu terakhir tak ada satu pun tim yang tengah bersiap untuk pemusatan latihan menghubungi kliennya. Namun justru ada klub dari Cina yang berminat kepada Iverson dan pemain itu pun tampaknya juga tertarik bermain di sana. Moore mengaku belum tahu detail klub yang berminat pada Iverson.
"Kami sangat terkejut bahwa tak ada satu pun tim di NBA yang menghubungi. Aku benar-benar tidak bisa mengerti hal itu," kata Moore.
Iverson adalah salah satu pemain terbaik NBA sejak ia memulai kariernya pada 1996 bersama Philadelphia 76ers. Meski tubuhnya tergolong mungil untuk ukuran pemain NBA, hanya 183 sentimeter, Iverson mampu membuat lawan-lawannya kelimpungan dengan kecepatan, dribbling, dan tembakannya yang luar biasa.
Iverson sempat dikenal sebagai "anak bengal" dan masuk rumah tahanan ketika remaja. Ternyata ia punya keahlian bermain basket meski sempat jadi pemain American football saat di sekolah menengah atas. Ia sudah berhasil mendapatkan gelar Pendatang Baru Terbaik pada tahun pertama kariernya di NBA. Iverson juga mampu meraih empat kali pencetak skor terbanyak di NBA dan sebelas kali ikut tim All Star.
Iverson menjadi ikon Sixers selama 10 tahun namun ia belum pernah merasakan jadi juara NBA. Pada 2006 ia memutuskan pindah ke Denver Nuggets agar peluang meraih juara lebih besar karena di sana ada bintang muda, Carmelo Anthony. Namun dua tahun di Nuggets, ia juga tak berhasil mendapatkan impiannya dan hijrah ke Detroit Pistons pada 2008 lalu pindah lagi ke Memphis Grizzlies pada tahun berikutnya.
Pertengahan musim lalu, Iverson akhirnya kembali lagi ke Sixers. Konfrontasinya dengan pelatih Larry Brown tak membuat Sixers menutup pintu bagi Iverson dan menerimanya lagi. Ia sempat absen sebulan pada Maret lalu karena urusan keluarga namun kembali lagi membela Sixers.
Saat ini Iverson menempati peringkat ke-17 pencetak skor di NBA dengan 24.368 poin selama 14 tahun berkarir di kompetisi itu.
Kondisi fisik Iverson yang kerap dilanda cedera lutut membuatnya hanya berperan sebagai pemain cadangan. Namun pengalaman dan keahliannya kerap membantu timnya keluar dari kesulitan saat bertanding. Moore mengatakan Iverson masih sehat untuk bermain basket dan tengah berlatih di Atlanta. "Kemampuannya bermain belum habis," kata Moore.

Sabtu, 11 September 2010

Homicide Selalu Matikan Lawan

Bintang basket kelas dunia tidak harus bermain di NBA. Corey “Homicide” Williams, bintang utama Development Basketball League (DBL) World Camp 2010 di Surabaya Agustus nanti, adalah buktinya. Berikut kisahnya.
”NAMA saya Corey ‘Homicide’ Williams. Saya lahir dan dibesarkan di Bronx, New York. Beberapa orang menyebut saya sebagai Raja New York. Setelah kuliah, saya mengejar pengakuan dan kredibilitas di jalanan New York. Rata-rata saya antara 30 sampai 40 poin di setiap turnamen di New York. Setiap orang yang mencoba menghadang saya selalu kalah. Itulah asal muasal sebutan ‘Homicide.’ Karena saya selalu menghancurkan lawan-lawan saya.”
Penjelasan singkat itu disampaikan langsung oleh Corey Williams, dalam wawancara dengan Elevation Mag, salah satu media streetball top. Dalam wawancara yang sama, dia menegaskan lagi julukan ”seram”-nya: Homicide alias 187 alias pembunuhan.
”Saya mendapatkan nama itu karena permainan saya yang agresif, karena saya selalu menyerang dan mematikan lawan-lawan di depan saya. Titik,” tandasnya.
***
Penggemar berat basket, khususnya streetball, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Corey ”Homicide” Williams. Dia merupakan salah seorang le genda basket jalanan, bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu pemain streetball terbaik dalam sejarah.
Tentu saja, Williams lebih dari sekadar bintang streetball. Dengan skill basketnya, dia sudah melanglang dunia, menja jal berbagai kompetisi profesional di berbagai benua. Mulai di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Asia, hingga Australia. Dia juga sudah berkali-kali masuk seleksi tim-tim NBA. Hanya nasib yang menghalanginya punya karir di liga paling bergengsi tersebut.
Bisa dibilang, Williams telah merasakan indahnya kedua ”dunia basket.” Sukses di arena streetball yang ”bebas aturan.” Sukses di arena profesional.
Soal definisi streetball sendiri, Williams ingin menegaskan apa itu streetball yang sebenarnya. ”Tur streetball (yang populer di dunia) telah menghancurkan apa itu streetball yang sebenarnya. Sekarang, orang mengidentikkan streetball dengan trik-trik bermain basket. Padahal, yang benar adalah orang-orang yang adu ketang guhan di lapangan outdoor, tanpa ada wasit dan foul, tanpa gerakange rakan lemah. Itu streetball yang sebenarnya,” ungkapnya.
Williams mengaku tidak akan melupakan jalanan New York, tempatnya meraup sukses awal. Khususnya di lapangan Rucker Park yang legendaris. Di sanalah dulu dia mendapatkan julukan seramnya.
”Ada komentator seru di even Enter tainer’s Basketball Classic (EBC, Red) di Rucker Park, bernama Hannibal ‘Da Most Electrifying One.’ Dia mengo mentari setiap pertandingan, dan selalu menghadiri pertandingan legendaris di sana sejak tahun 2000. Kalau kita bermain di sana dan mampu memukau, mereka langsung memberi kita nama,” kenang Williams.
Pemain yang kini berusia 32 tahun itu mengaku tidak langsung mendapat julukan ”Homicide.” Awalnya adalah ”The Hard Worker” (pekerja keras), lalu ke ”C-Murder,” lalu ke ”C-Homicide,” baru kemudian menjadi ”Homicide.”
Williams memang benar-benar ngetop di New York. Di arena streetball, dia berkali-kali menghadapi bintang-bintang streetball kelas dunia lain, atau bahkan menghadapi pemain-pemain NBA secara individual. Pernah, dalam suatu even, dia menghadapi Ron Artest. Waktu itu Artest masih terga bung di Indiana Pacers, dan memegang gelar Defensive Player of the Year. Sekarang, penggemar NBA tentu tahu, Artest baru saja membantu Los Angeles Lakers meraih gelar juara 2010.
Berhadapan langsung dengan Artest, Williams tidak gentar. Berkali-kali dikasari dan diblok, Williams terus menyerang. Alhasil, dia pun mencetak 26 poin. Timnya kalah tipis, tapi dia mampu meraup banyak poin meski dikawal Artest yang lebih tebal dan besar (Williams 190 cm, Artest 201 cm). ”Itu 26 poin paling sulit yang pernah saya dapatkan. Tapi saya mampu mendapatkan 26 poin! Pertandingan itu benar-benar membantu mental saya, memberi tahu saya kalau saya mampu bermain di level tertinggi,” ucapnya seperti dikutip majalah Dime.
Dari jalanan New York pula Williams mendapat ”penghargaan” tertinggi dalam karir seorang pemain basket: Yaitu mendapatkan kontrak sepatu, dan dibuatkan sepatu signature sendiri, yang kemudian dijual laris diberbagai penjuru dunia.
K1X, merek sepatu asal Jerman, mengontraknya. Membuatkannya sepatu bernama ”187,” alias kode polisi New York untuk pembunuhan alias homicide. ”Saya ingin menegaskan kepada Anda, bahwa saya adalah pemain street ball pertama dalam sejarah yang mendapatkan kontrak sepatu signature. Saya juga pemain pertama dalam sejarah yang mendapat sepatu eksklusif tanpa harus bermain di NBA!” tukasnya.”Ini saya dapatkan karena kemurahan hati Tuhan, kerja keras, dan tekad untuk tidak pernah menyerah,” tegasnya.
Sampai hari ini, Williams masih tidak mau melupakan masa lalunya di ja lanan New York. Meski sudah ber ke luarga dan tinggal di Denver, serta mengejar dolar di berbagai penjuru dunia, Williams terus menyempatkan diri untuk kembali ke Rucker Park, New York.
Pertengahan Juli lalu, dia kembali mengikuti even bergengsi Entertainer’s Basketball Classic (EBC) di kota tersebut. Dan meski sudah tergolong pemain senior, dia masih menjadi idola. Performa pun tidak mengecewakan. Dia menjadi top scorer, mencetak 36 poin dalam pertandingan ekshibisi yang sangat bergengsi itu.
”Semakin banyak penonton, semakin besar beban, semakin baik saya bermain. Inilah yang saya cintai,” katanya seperti dilansir New York Post.
Sambil terus berlaga di ajang yang dia cintai, sampai hari ini Williams juga masih mencari sukses berkelanjutan di liga profesional kelas dunia. Di usia 32 tahun, masanya tidak akan lagi lama. Masih mampukah dia menembus arena NBA?

Agar Si Kecil Tak Mabuk Perjalanan Saat Mudik

Beberapa hari menjelang Idul Fitri, pasti Anda sudah bersiap-siap untuk mudik. Perjalanan mudik baik melalui darat, laut, maupun udara pasti sangat melelahkan baik untuk Anda dan si kecil. Untuk perjalanan udara, jika Anda melintasi zona waktu yang berbeda, masalah yang bisa timbul adalah jet lag yang terjadi pada si kecil.
Jet lag ditandai oleh ketidakmampuan bayi tidur untuk tidur. Mereka juga akan bangun lebih awal dan tampak lelah sepanjang hari. Efeknya lebih besar pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Makin jauh perbedaan zona waktu, maka makin sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu yang baru. Agar si kecil terhindar dari jet lag atau mengurangi efeknya, ada empat cara yang bisa Anda lakukan.
1. Sesuaikan jadwal tidurnya
Buatlah si kecil tidur 20 menit lebih awal sebelum melakukan perjalanan. Hal ini untuk perlahan-lahan menyesuaikan jadwal tidurnya ke zona waktu yang baru.
2. Tetap tidur siang
Bukan hanya tidur pada malam hari, sesuaikan juga jadwal tidur siangnya berdasarkan lokasi zona waktu yang. Pertahankan ritme tidur yang biasanya Anda lakukan di rumah. Jika ia terbangun di malam hari, jaga ruangan tetap gelap dan buatlah ia merasa tenang, bisa dengan mengusap punggung atau keningnya.
3. Sesuaikan jadwal makan
Jadwal makan juga perlu disesuaikan dengan zona waktu yang baru, karena berpengaruh pada metabolismenya. Sistem metabolisme sangat berpengaruh pada ritme tidurnya.
4. Ajak si kecil ke luar rumah
Setelah sampai di tempat tujuan, sering-seringlah membawa si kecil keluar rumah. Hal ini akan membantu tubuhnya melakukan penyesuaian dengan zona waktu dan suhu secara lebih cepat.

Pacaran Jarak Jauh Tanpa Tatap Muka, Awetkah?

Tanya:
Saat ini, saya dan pasangan sedang menjalani hubungan jarak jauh, karena si dia bekerja di luar negeri. Uniknya, sejak awal memutuskan untuk menjalin hubungan, Desember lalu, hingga kini, kami belum pernah bertatap muka secara langsung.
Selama ini, kami hanya berkomunikasi lewat sms, telepon, dan chatting (webcam). Meski komunikasi hanya melalui telepon dan dunia maya, tetap saja pertengkaran bisa terjadi hanya karena salah paham. Masalahnya, kami juga berbeda keyakinan. Problem itu sepertinya masih menghantui kami.
Pasangan sering mengungkapkan pada saya bahwa dia tidak ingin 'main-main' lagi, dan ingin serius berhubungan. Dia juga berjanji akan segera pulang ke Indonesia untuk membahas hal ini. Namun, walau berjanji akan pulang sejak Mei lalu, hingga saat ini janjinya belum juga ditepati.
Anehnya lagi, sudah dua minggu ini dia hanya sekali membalas SMS yang saya kirim setiap hari. Apa yang terjadi? Apakah si dia benar-benar serius menjalani hubungan ini? Mengapa dia menghilang? Apakah sudah ada wanita lain di hatinya?
SN
Jawab:
Kalau dilihat dari hati, yang namanya hubungan jarak jauh memang agak sulit diperkirakan ujungnya, dan semuanya itu perlu kesabaran dan hati yang ikhlas. Mengamati situasi yang Anda hadapi, kemungkinan pasangan tidak seserius yang dia ungkapkan.
Karena itu, sebaiknya jangan berharap banyak karena semuanya akan membuat Anda kecewa, dan menguras tenaga Anda, karena memikirkan hal yang belum pasti ini.
Saran saya, jika si dia tak juga menepati janjinya, lebih baik Anda mengikhlaskan hubungan ini, dan mengalihkan pikiran ke masa depan Anda. Mudah-mudahan, tahun depan akan ada seseorang yang lebih baik dan cocok untuk Anda.

Akses Facebook, Mahasiswa Jadi Lebih Bodoh?

Facebook bak pisau bermata dua. Di balik manfaatnya yang luar biasa, situs jejaring sosial ini juga dinilai menyimpan masalah serius. Penelitian tim psikolog Open University di Belanda mengungkapkan bahwa situs jejaring sosial itu mempengaruhi prestasi belajar dan bekerja secara signifikan.
"Masalahnya adalah kebanyakan orang membuka Facebook atau situs jejaring sosial, email dan atau pesan instan saat mereka melakukan tugas atau pekerjaan lain," kata salah satu peneliti, Profesor Paul Kirschner, seperti dikutip dari Times of India.
Hasil penelitian menemukan bahwa pelajar yang log-in ke Facebok sembari belajar mendapatkan nilai yang jauh lebih rendah ketimbang yang tidak.  Juga, bahwa nilai ujian dari mereka yang menggunakan situs jejaring sosial sembari bekerja--meskipun hanya terpampang di belakang layar komputer utama tempat mereka bekerja--20 persen lebih rendah dari yang tidak menggunakannya.
Orang mungkin berpikir bahwa melakukan tugas secara paralel, termasuk digital multitasking, cenderung lebih efisien. Padahal itu justru berpotensi memecah konsentrasi. "Sehingga pekerjaan bisa lebih banyak salah dan butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya," kata Kirschner.
Dalam penelitian ini, Profesor Paul Kirschner dan timnya melibatkan 219 mahasiswa berusia 19-54 tahun dari berbagai universitas di Amerika. Mereka yang terbiasa mengakses Facebook di kelas memiliki tingkat pencapaian indeks prestasi rata-rata 3,06. Sementara yang tidak memiliki kebiasaan itu memiliki indeks prestasi rata-rata 3,82.
Mahasiwa yang tidak menggunakan situs jejaring sosial mengatakan, mereka meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar. Mereka memiliki waktu lebih panjang sekitar 88 persen. Namun, tiga dari empat penggila Facebook tidak percaya bahwa menghabiskan banyak waktu di situs jejaring sosial bisa mempengaruhi prestasi akademik mereka.

Peneliti: Aromaterapi Lavender Tingkatkan Konsentrasi Belajar Siswa

Aromaterapi lavender dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi belajar siswa, karena berfungsi mendorong kinerja kognitif seseorang, kata peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Barii Hafidh Pramono.
Menurut Barii di Yogyakarta, Sabtu, aromaterapi lavender atau terapi menggunakan minyak atsiri bunga lavender dapat memengaruhi suasana hati menjadi tenang, meningkatkan kewaspadaan, kemampuan berkonsentrasi, dan menurunkan kecemasan seseorang.
Ia mengatakan aromaterapi lavender mampu meningkatkan aktivitas gelombang alfa yang merupakan penanda seseorang dalam keadaan tenang, dapat merangsang otak, dan membangun konsentrasi.
"Teknik penerapan aromaterapi dapat dilakukan pada proses belajar baik di rumah maupun sekolah. Hal itu dilakukan agar dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan menurunkan kecemasan siswa ketika menghadapi ujian nasional," katanya.
Ia mengatakan, teknik aplikasi aromaterapi lavender salah satunya dengan menggunakan empat pot bunga lavender yang diletakkan di setiap sudut kelas maupun lingkungan rumah atau kamar siswa.
Selain itu, katanya, bisa dilakukan dengan teknik penguapan maupun sistem pengharum ruangan yang saat ini sedang tren digunakan, yaitu pengharum ruangan otomatis yang bisa ditempatkan di ruangan.
"Bau-bauan tersebut akan ditangkap syaraf pembau diteruskan syaraf pusat kemudian timbul perasaan tenang sehingga siswa dapat belajar dengan tenang dan lebih berkonsentrasi," katanya.
Menurut dia, aromaterapi dapat diterapkan di masyarakat baik di lingkungan keluarga maupun sekolah sehingga siswa dapat belajar dengan tenang dan lebih konsentrasi.
"Konsentrasi belajar akan membuat siswa lebih siap menghadapi ujian dan tidak cemas sehingga jumlah siswa tidak lulus ujian dapat berkurang," katanya.
Ia mengatakan kalangan masyarakat kini bisa mencoba menerapkan aromaterapi lavender yang menggunakan minyak atsiri bunga lavender untuk menenangkan pikiran.

Mencari Chemistry dan Komposisi

Pelajaran berharga didapatkan tim Development Basketball League (DBL) Indo nesia All-Star 2010. Saat mereka melakoni uji coba pertama di DBL Arena, Surabaya, tadi malam (1/9). Tim All-Star putra melawan CLS Knights Junior.
Sementara tim All-Star putri melawan Rajawali Sakti. Dalam dua laga yang berlangsung sengit dan seru itu, tim DBL All-Star harus mengakui keunggulan sparring partner-nya. Tim All-Star putra kalah 47-81. Sedangkan tim putri kalah 22-47. Namun, kekalahan itu tidak perlu membuat tim DBL All-Star berkecil hati. Sebab, dalam laga uji coba seperti itu, yang terpenting bukanlah menang kalah. Melainkan mendapatkan bahan evaluasi untuk membuat tim lebih baik di masa yang akan datang.
Mengingat itu adalah uji coba pertama tim All-Star, tentu saja sangat sulit mengharapkan tim All- Star langsung solid. Sebab, tim pelatih masih berusaha mengenali karakter para pemain. Para pemain pun sedang memahami gaya main teman-temannya. Intinya, dalam uji coba perdana itu, tim DBL Indonesia All-Star masih mencari chemistry dan komposisi. ”Kekurangan utama kami dalam pertandingan ini adalah team work. Itu bisa dimaklumi karena ini adalah laga pertama bagi anak-anak,” kata pelatih tim All-Star putri Hendry Bonardi seusai laga uji coba.
”Saya sangat yakin dengan potensi tim ini. Bahwa kami kalah malam ini (tadi malam WIB, Red) itu karena kami belum kompak,” kata pelatih kepala tim putra Dicky Sastra Permana. Pada awal pertandingan, tim All-Star putri sebelumnya melakukan start dengan baik. Pada akhir kuarter pertama mereka unggul 6-5. Sayang, di kuarter kedua ritme permainan Ida Ayu Drupadi D.D dkk terganggu. Mereka pun tertinggal 17-10.
Kunci kebangkitan Rajawali adalah power forward Sakti Irene Senduk dan Selvy yang banyak mendulang poin melalui tembakaran jarak jauh. Di sektor pria, keunggulan pengalaman pemain CLS Junior juga sangat terlihat. Itu disebabkan pemain CLS rata-rata memiliki usia empat tahun lebih senior. Bahkan, CLS Junior diperkuat delapan alumnus tim juara Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas) 2009 asal Universitas Surabaya.