Sabtu, 04 September 2010

Belajarlah Sebanyak Mungkin di Amerika

Tim Development Basketball League (DBL) All- Star Indonesia 2010 baru bertolak ke Amerika Serikat (AS) pada 31 Oktober nanti. Namun, mereka sudah merasakan pengalaman istimewa kemarin (1/9). Setelah siang mengurus visa berkunjung ke Negeri Paman Sam, sore mereka dijamu buka puasa oleh Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya Kristen F. Bauer.
Dijamu wakil negara adidaya seperti AS tentu saja merupakan pengalaman istimewa bagi 24 pemain plus lima pelatih DBL Indonesia All-Star. Sebab, tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu. Hanya orang-orang berprestasi dan spesial yang mendapatkannya. Acara buka puasa tersebut diselenggarakan di kediaman Konjen, Jl Untung Suropati, Surabaya. Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti acara yang juga diikuti semua staf konsulat jenderal itu. Wali kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini, juga datang. Tak ketinggalan Presiden Seattle- Surabaya Sister City Association (SSCA) Michael Atmoko.
Dia datang untuk menyemangati para pemain dan pelatih terbaik dari DBL World Camp with NBL Australia pada 7–10 Agustus lalu tersebut. Pada31 Oktober nanti, DBL All-Star akan bertolak ke Seattle untuk mengikuti DBL International Challenge. Bauer menyatakan sudah mendengar banyak hal tentang kegiatan luar biasa yang dihelat DBL Indonesia. Termasuk, betapa ketatnya pemilihan tim all-star. Mereka adalah pilihan di antara 181 pemain dan 48 pelatih yang mengikuti DBL World Camp.
Peserta kamp itu disaring dari 23 ribu peserta Honda DBL 2010, liga pelajar terbesar yang dihelat di 21 kota pada 18 provinsi di seluruh Indonesia. Pemain dan pelatih yang masuk all-star, lanjut dia, adalah orang-orang pilihan. Bagi perempuan kelahiran Boston tersebut, kerja keras mereka hingga menjadi all-star tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi sekolah mau pun orang tua. ”Apalagi, mereka berkesempatan pergi ke AS. Semua pasti excited,” tuturnya.
Peraih gelar BA bidang sejarah dan hubungan internasional dari Randolph Macon Woman’s College pada 1984 tersebut berharap semua pemain dan pelatih menikmati perjalanan ke AS nanti. Dia juga berpesan kepada mereka agar belajar sebanyak-banyaknya selama berada di sana, tidak hanya bersenang-senang. Selama berada di Seattle, tim allstar bisa mengetahui lebih banyak hal tentang AS. Mulai kebudayaan, sejarah, pendidikan, masyarakat, dan tentu saja dunia basketnya. ”Tidak tertutup kemungkinan di antara kalian ada yang kembali ke Amerika Serikat suatu saat nanti. Melanjutkan studi atau mendapatkan beasiswa,” ungkap perempuan yang kemarin didampingi suaminya, Tung Huynh, tersebut.
Sementara itu, Tri Rismaharini mengatakan bahwa keberangkatan tim DBL Indonesia All-Star ke AS adalah hal menguntungkan bagi hubungan Seattle dengan Surabaya. ”Hubungan dengan Kota Seattle adalah salah satu yang pertama bagi Surabaya. Perekatan hubungan dengan delegasi olahraga itu, saya pikir, lebih mudah daripada antar pemerintahan. Jadi, saya sangat apresiatif dengan keberangkatan tersebut,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Risma memberikan suvenir kepada Bauer. Suvenir yang sama diberikan ke pada para pemain dan pelatih. ”Ke depan, saya ingin hubungan tersebut semakin riil. Semoga tim pelajar dari Seattle juga bisa datang ke Surabaya,” ucap dia. Sebelum berbuka puasa, para pemain DBL All-Star beradu aku rasi tembakan dengan staf Konjen AS.
Kebetulan, di halaman kediaman Bauer juga terdapat ring basket. Staf konsulat jenderal diwakili Murizio Visani (information management officer) dan Rodney Collins (regional security officer). Mereka beradu akurasi tembakan dengan beberapa pemain all-star. Di antaranya, Teuku Rahmat Iqbal dan I.A. Drupadi D.D. Kemeriahan meledak kala General Manager Marketing MPM Motor Honda Dendy Sean T. dan Michael Atmoko ”gatal” untuk ikut main. Tampaknya, Michael dan Dendy grogi kala aksi basket mereka dilihat banyak orang. Akibatnya, tidak ada satu pun tembakan mereka yang mengenai sasaran. ”Memang tidak berbakat, sih,” kelakar Dendy.
Jamuan untuk tim DBL Indonesia All-Star itu mencapai klimaks begitu waktu berbuka puasa tiba. Mereka begitu menikmati momen tersebut karena menu yang disajikan Konjen AS menggugah selera. Mulai yang ringan, seperti nugget jagung, angsle, dan kurma; hingga yang berat, seperti sate, ikan bumbu nanas, tumis baby kailan, serta oseng-oseng brokoli. Muhammad Rizal Falconi dari SMAN 7 Pontianak mengatakan sangat menikmati momen itu. Hal tersebut membuat dia semakin tak sabar untuk terbang ke AS. ”Itu akan menjadi pengalaman yang sangat luar biasa. Itu adalah kesempatan pertama dalam hidup saya. Saya benar-benar tidak sabar,” ucap dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar