National Basketball League (NBL) Indonesia benar-benar layak menjadi harapan baru bagi perbasketan tanah air. Penyelenggaraan dan penonton heboh. Pertandingan pun sangat seru. Pemandangan yang tersaji di DBL Arena Surabaya kemarin (16/10) layak membuat fans basket tanah air untuk optimistis menyongsong perbasketan Indonesia yang lebih bergairah.
Dua laga yang disajikan pada hari perdana kemarin berjalan sangat ketat. Duel seteru klasik antara Dell Aspac Jakarta dan Satria Muda (SM) Britama Jakarta menyuguhkan tontonan dramatis serta mendebarkan di laga resmi perdana NBL Indonesia. Dua tim tersebut mampu menghadirkan permainan atraktif dan menghibur ribuan penonton yang memadati DBL Arena Surabaya (16/10).
SM dan Aspac merupakan juara dan runner-up musim terakhir IBL pada 2009. Mereka bermain habis-habisan untuk membuktikan siapa yang terbaik. Lewat pertarungan seru, Aspac akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 68-58.
Sejak kuarter pertama, anak-anak Aspac bermain dengan agresivitas tinggi. Kehilangan shooting guard Xaverius Prawiro yang berhalangan hadir karena urusan keluarga tidak membuat Aspac kendur.
Kecepatan kapten Dirk M. Mario Gerungan dkk tidak mampu diantisipasi oleh pertahanan ketat SM yang digalang center Rony Gunawan. Dalam laga itu, center Aspac Muhammad Isman Thoyib mencatat sejarah dengan mencetak skor pertama dalam ajang resmi NBL Indonesia.
Small forward SM Amin Prihantono langsung membalas dengan tembakan tiga angka. Itu juga menjadi tembakan tiga angka pertama dalam laga resmi NBL Indonesia.
Pada awal kuarter keempat, SM unggul 55-52. Namun, berkat konsistensi permainan yang ditunjukkan Aspac, akhirnya mereka unggul jauh pada kuarter keempat. Oki Sanjaya dan small forward Rizky Effendi menjadi bintang Aspac dengan torehan masing-masing 14 angka.
Pelatih Aspac Tjetjep Firmansyah menyatakan sangat gembira dengan kemenangan itu. Dia mengatakan, anak asuhannya sudah menjalankan instruksi dengan baik. Tjetjep bangga karena meski tidak ada Xaverius, timnya bermain kompak. ”Yang penting, anak-anak sudah sangat bekerja keras. Transisi offense dan defense yang kami terapkan berjalan mulus. Saya merasa Aspac kembali pada rules-rules selama ini,’’ katanya.
Di sisi lain, pelatih SM Fictor Gideon Roring tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaan. Menurut dia, kekalahan tersebut sangat menyesakkan. Sebab, itu terjadi pada laga perdana NBL Indonesia. ”Tetapi, ingat, kekalahan ini karena tim yang kami hadapi bukan sembarangan. Game plan kami sama sekali tidak jalan,” kata Ito, panggilan Fictor Gideon Roring.
Pertandingan tak kalah seru juga tersaji saat Nuvo CLS Knights berhadapan dengan Pelita Jaya (PJ) Esia. PJ akhirnya bisa mengalahkan CLS dengan skor 67-58.
Pada kuarter pertama, PJ hanya unggul tipis 20-16. Lambat laun, PJ menemukan momentum terbaik pada kuarter kedua hingga bisa unggul agak jauh 34-25. Harapan CLS kembali terbuka pada kuarter ketiga, mereka bisa memperkecil kedudukan hingga menjadi 46-50.
Malapetaka bagi CLS terjadi saat point guard Dimaz Muharri terkenal foul out. Kehilangan Dimaz sangat mempengaruhi performa CLS. Mereka makin lemah saat center Agustinus Indrajaya juga terkena foul out, CLS betul-betul lumpuh. ”Keluarnya mereka berdua sangat berpengaruh besar,” kata pelatih CLS W. Amran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar